Senin, 31 Oktober 2016

Pendekatan dalam Filsafat Ilmu

Pendekatan dalam Filsafat Ilmu


Dalam melakukan studi filsafat dilakukan berdasarkan beragam pendapat dan pandangan. Agar studi filsafat tidak menjadi historis melainkan sistematis, fungsional dan komparatif kita perlu melakukan pendekatan-pendekatan sehingga dapat membuka wawasan kita yang lebih luas. Pendekatan yang di pakai dalam menelaah suatu masalah juga dapat dilakukan dengan menggunakan sudut pandang atau tinjauan dari berbagai cabang ilmu.
Parsons dalan studinya melakukan lima pendekatan sebagai berikut :
Pendekatan received view yang secara klasik bertumpu pada aliran positivisme yang berdasar pada fakta.
Pendekatan menampilkan diri dari sosok rasionality yang membuat kombinasi antara berfikir empiris dengan berfikir struktural dalam matematika.
Pendekatan fenomenologik yang tidak hanya sekedar pengalaman langsung, melainkan pengalaman yang mengaplikasikan penafsiran dan klasifikasi.
Pendekatan metafisik, yang bersifat intrasenden. Moral berupa sesuatu yang objektif universal.
Pragmatisme, dapat menyatukan antara teori dan praktik.
Dengan memahami pendekatan-pendekatan sebagaimana disebutkan di atas, untuk melakukan studi filsafat dalam memilih salah satu pendekatan yang tepat sehingga dalam melakukan generalisasinya dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah. Cara mendapatkan pengetahuan ilmiah, yaitu dengan menggunakan metode ilmiah, berfikir secara rasional dan bertumpu pada data data empiris.
Jenis pendekatan lain yang juga penting kita telaah sebagai perbandingannya adalah pendekatan deduksi dan pendekatan induksi. Alasan kedua pendekatan ini relatif lebih familiar dengan keseharian kita, serta pendekatan ini menunjukan pada kita bahwa filsafat ilmu adalah sebuah ilmu yang mempelajari filsafat. Karenanya kita perlu melihat bahwa sebagai cabang ilmu filsafat menghasilkan teori-teorinya dari hasil pelaksanaan metode ilmiah.

Fungsi dan Arah Filsafat Ilmu

Fungsi dan Arah Filsafat Ilmu


Filsafat ilmu sangat berperan dalam memahami konsep atau teori ilmu untuk membangun teori ilmiah melalui landasan filosofis melalui kajian filsafat.
Menurut Franz Magnis Suseno, fungsu filsafat ilmu sangat luas dan mendalam, yaitu sebagai berikut :
Untuk membantu mendalami pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu atau asasi manusia tentang makna realitas dan lingkup tanggung jawabnya secara sistematis dan historis.
Sebagai kritik ideologi, artinya kemampuam menganalisis secara terbuka dan kritis argumentasi-argumentasi agama, ideologi dan pandangan dunia.
Sebagai dasar metodia dan wawasan lebih mendalam dan kritis dalam mempelajari studi-studi ilmu khusus.
Merupakan dasar paling luas untuk berpartisipasi secara kritis dalam kehidupan intelektual pada umumnya dan khususnya di lingkungan akademis.
Memberikan wawasan lebih luas dan kemampuan analitis dan kritis tajam untuk bergulat dengan masalah-masalah intelektual, spiritual dan ideologis.
Burhanuddin Salam mengemukakan bahwa filsafat berfungsi sebagai induk ilmu pengetahuan. Begitu juga Will Durant menjelaskan bahwa filsafat berfungsi sebagai perentas pengetahuan, artinya filsafat telah memberi arah kepada ilmu pengetahuan dalam merumuskan konsep dan teori untuk membangun konsep ilmiah.
Sedangkan arah filsafat ilmu dapat di pahami dari beberapa pendapat, antara lain : pertama, filsafat ilmu di arahkan pada pembekalan pemahaman terhadap wawasan baik. Kedua, filsafat ilmu di arahkan untuk lebih memanusiakan diri atau lebih mendidik atau membangun diri sendiri, agar dapat mempertahankan sikap objektif dan mendasarkan pendapat atas pengetahuan yang objektif, tidak hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan simpati dan antipati saja, agar dapat berfikir secara holistis dalam menyelesaikan suatu permasalahan tidak mementingkan egoisme, dan agar dapat berfikir secara kritis, mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Filsafat sebagai ilmu

Filsafat sebagai ilmu


Dikatakan filsafat sebagai ilmu karena di dalam pengertian filsafat mengandung empat pertanyaan ilmiah, yaitu bagaimanakah, mengapakah, ke manakah, dan apakah.
Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat-sifat yang dapat di tangkap atau yang tampak oleh indera. Jawaban atau pengetahuan yang di perolehnya bersifat deskriptif atau penggambaran.
Pertanyaan mengapa menanyakan tentang sebab (asal mula) suatu objek. Jawaban atau pengetahuan yang di perolehnya bersifat kausalitas (sebab akibat).
Pertanyaan kemana menanyakan apa yang terjadi di masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Jawaban yang di peroleh ada tiga jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan yang timbul dari hal-hal yang selalu berulang-ulang, pengetahuan yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam adat istiadat yang berlaku di masyarakat, pengetahuan yang timbul dari pedoman yang di pakai sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan.
Pertanyaan apakah yang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Hakikat ini sifatnya sangat dalam dan tidak lagi bersifat empiris sehingga hanya dapat dimengerti oleh akal.
Dengan demikian kalau ilmu-ilmu yang lain selain filsafat bergerak dari tidak tau menjadi tahu, sedangkan filsafat bergerak dari tidak tahu ke tahu selanjutnya ke hakikat.
Untuk mencari pengetahuan hakikat, haruslah dilakukan dengan abstraksi, yaitu suatu perbuatan akal untuk menghilangkan keadaan, sifat-sifat yang secara kebetulan, sehingga akhirnya tinggal keadaan atau sifat yang harus ada yaitu substansia, maka pengetahuan hakikat dapat di perolehnya.

Sumber : Achmadi, Asmoro. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Pers.

Filsafat sebagai cara berfikir

Filsafat sebagai cara berfikir


Berfikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berfikir yang sangat mendalam sampai hakikat, atau berfikir secara global atau menyeluruh, atau berfikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berfikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berfikir secara tepat dan benar serta dapat di pertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persyaratan berikut :
Harus sistematis, artinya menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. Sistematis artinya masing-masing unsur saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan.
Harus konsepsional, artinya upaya untuk menyusun suatu bagan yang terkonsepsi. Berfikir filsafat sebenarnya berfikir tentang hal dan prosesnya.
Harus koheren, artinya unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lain.
Harus rasional, artinya unsur-unsurnya berhubungan secara logis.
Harus sinoptik, artinya pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh.
Harus mengarah kepada pandangan dunia, artinya pemikiran filsafat sebagai upaya untuk memahami semua realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan hidup dunia.

Filsafat sebagai Pandangan hidup

Filsafat sebagai Pandangan hidup


Diartikan sebagai pandangan hidup karena filsafat pada hakikatnya bersumber pada hakikat kodrat pribadi manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan. Hal ini berarti filsafat mendasarkan pada penjelmaan manusia secara total dan sentral sebagai hakikat manusia sebagai makhluk monodualisme. Manusia secara total dan sentral di dalamnya memuat sekaligus sebagai sumber penjelmaan bermacam-macam filsafat sebagai berikut :
Manusia dengan unsur raganya dapat melahirkan filsafat biologi.
Manusia dengan unsur rasanya dapat melahirkan filsafat keindahan.
Manusia dengan unsur monodualismenya dapat melahirkan filsafat antropologi.
Manusia dengan kedudukannya sebagai makhluk Tuhan dapat melahirkan filsafat ketuhanan.
Manusia dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial dapat melahirkan filsafat sosial.
Manusia sebagai makhluk yang berakal dapat melahirkan filsafat berfikir.
Manusia dengan unsur kehendaknya untuk berbuat baik dan buruk dapat melahirkan filsafat tingkah laku.
Manusia dengan unsur jiwanya dapat melahirkan filsafat psikologi.
Manusia dengan segala aspek kehidupannya dapat melahirkan filsafat nilai.
Manusia sebagai warga negara dapat melahirkan filsafat negara.
Manusia dengan unsur kepercayaannya dapat melahirkan filsafat agama.
Filsafat sebagai pandangan hidup merupakan suatu pandangan hidup yang di jadikan dasar setiap tindakan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari, juga di pergunakan sebagai penyelesaian persoalan-persoalan yang di hadapi dalam hidupnya.

Kegunaan filsafat secara khusus

Kegunaan filsafat secara khusus


Di samping kegunaan filsafat secara umum, filsafat juga dapat berguna secara khusus dalam lingkungan sosial budaya Indonesia, yaitu sebagai berikut :
Bangsa indonesia berada di tengah-tengah dinamika proses modernisasi yang meliputi semakin banyak bidang dan hanya untuk sebagian dapat dikemudikan melalui kebijakan pembangunan. Menghadapi tantangan modernisasi dengan perubahan pandangan hidup, nilai-nilai dan norma filsafat membantu untuk mengambil sikap yang sekaligus terbuka dan kritis.
Filsafat merupakan sarana yang baik untuk menggali kembali kekayaan kebudayaan, tradisi, dan filsafat Indonesia serta untuk mengaktualisasikannya. Filsafatlah yang paling sanggup untuk mendekati warisan rohani, tidak hanya secara verbalistik, melainkan secara evaliatif, kritis dan reflektif, sehingga kekayaan rohani bangsa dapat menjadi modal dalam pembentukan identitas modern bangsa indonesia secara terus menerus.
Sebagai kritik ideologi filsafat membangun kesanggupan untuk mendeteksi dan membuka kedok-kedok ideologis berbagai bentuk ketidakadilan sosial dan pelanggaran terhadap martabat dan hak asasi manusia yang masih terjadi.
Filsafat merupakan dasar yang paling luas untuk berpartisipasi secara kritis dalam kehidupan intelektual bangsa pada umumnya dan khususnya dalam kehidupan intelektual di universitas-universitas dan lingkungan akademis.
Filsafat menyediakan dasar dan sarana sekaligus bagi diadakannya dialog yang ada di antara agama di Indonesia pada umumnya dan secara khusus dalam rangka kerjasama antara agama dalam membangun masyarakat adil makmur berdasarkan pancasila.

Kegunaan Filsafat Secara Umum.

Kegunaan Filsafat Secara Umum.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menangani berbagai pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metodis ilmu-ilmu khusus. Jadi filsafat membantu untuk mendalami berbagai pertanyaan asasi manusa tentang makna realitas dan lingkup tanggung jawabnya. Kemampuan itu dipelajarinya dari dua jalur yaitu secara sistematik dan historis.
Pertama secara sistematik artinya filsafat menawarkan berbagai metode mutakhir untuk menangani masalah-masalah mendalam manusia, tentang hakikat kebenaran dan pengetahuan, baik biasa maupun ilmiah, tentang tanggung jawab dan keadilan, dan sebagainya.
Menurut para  filsuf kegunaan filsafat secara umum adalah sebagai berikut :
1. Plato merasakan bahwa berfikir dan memikirkan itu sebagai suatu nikmat yang luar biasa sehingga filsafat di beri predikat sebagai keinginan yang maha berharga.
Rene Descartes, berfilsafat berarti berpangkalan kepada suatu kebenaran yang fundamental atau pengalaman yang asasi.
2. Alfred North Whitehead, filsafat adalah keinsafan dan pandangan jauh kedepan dan suatu kesadaran akan hidup pendeknya, kesadaran akan pentingnya yang memberi semangat kepada seluruh usaha peradaban.
3. Maurice Marleau Ponty, filsafat terletak dalam sumber penyelidikannya, sumber itu adalah eksistensi dan dengan sumber itu kita bisa berfikir tentang manusia.

Aliran Sekularisme dalam Filsafat.

Aliran Sekularisme dalam Filsafat.


Sekularisme adalah sistem etika plus filsafat yang bertujuan memberi interpretasi atau pengertian terhadap kehidupan manusia tanpa percaya kepada Tuhan, kitab suci, dan hari akhir. Sekularisme sebagai suatu sistem etika yang di dasarkan atas prinsip-prinsip moralitas alamiah san bebas dari agama wahyu dan spiritual.
Prinsip esensial dari sekularisme adalah mencari kemajuan manusia dengan alat materi semata-mata. Dengan demikian, jelaslah bahwa sekularisme termasuk dalam kategori materialisme.
Tokoh pendiri sekularisme adalah Jacob Holyoake yang merupakan bentuk peniadaan peran warna kristiani pada seluruh kehidupan barat, baik politik, ekonomi, sosial, maupun budaya pada umumnya.

Aliran Pragmatisme dalam Filsafat

Aliran Pragmatisme dalam Filsafat


Pragmatisme adalah aliran yang menjelaskan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima sesuatu asal membawa akibat praktis, atau dengan kata lain patokannya adalah 'manfaat bagi hidup praktis'. Tokoh utama aliran pragmatisme adalah William James dan John Dewey di Amerika Serikat. Di samping itu di Inggris ada FC. Schiller, Charles S. Pierce, dan George Herbert Mead.
Dalam perkembangannya, aliran pragmatisme mengalami perbedaan kesimpulan, kendati demikian, ada tiga patokan yang di setujui oleh aliran pragmatisme ini, yaitu menolak segala intelektualisme, absolutisme, dan meremehkan logika formal.

Aliran Filsafat Islam dalam Filsafat

Aliran Filsafat Islam dalam Filsafat


Kata filsafat di kalangan umat islam diartikan dengan kata hikmah. Mereka menempatkan kata hikmah ini di atas kata filsafat. Ibnu Sina menyebutkan bahwa hikmah adalah mencari kesempurnaan diri manusia dengan dapat menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktik menurut kadar kemampuan manusia.
Filsafat islam adalah perkembangan pemikiran umat islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusa, dan alam semesta yang di sinari ajaran islam. Filsafat islam cakupannya sangat luas bukan hanya masalah alam semesta dan isinya saja, tetapi juga masalah ketuhanan dan ke nabian. Kelebihan filsafat islam dengan filsafat lainnya adalah dalam filsafat islam terdapat perpaduan antara agama dan filsafat, antara akidah dan hikmah, antara wahyu dan akal, yang dalam filsafat Yunani tidak ditemukan.
Filsafatbislam dapat di artikan sebagai filsafat yang dikembangkan oleh orang-orang islam, yang mengkaji masalah hakikat yang ada, dari mana asalnya, kemana akhirnya, serta cara-cara mendapatkan hakikat pengetahuan yang benar dan salah, baik dan buruk, serta teori kebahagiaan.
Tokoh filsafat islam yang terkenal adalah Al-Ghazali, ia dikenal sebagai filsof pertama yang berhasil merekonsiliasasikan antara rasionalisme, ritualisme, dogmatisme, mistisisme. Selain Al-Ghozali, filsof muslim yang terkenal adalah Al-Farabi. Al-Farabi membahas mengenai ketuhanan. Menurutnya, segala yang ada ini hanya dua kemungkinan dan tidak ada alternatif ketiga. Selain kedua filosof tersebut, filosof-filosof lain yang namanya menghiasi lembaran emas filsafat islam antara lain Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Taymiyah, dan lain-lain.

Rabu, 26 Oktober 2016

Perkembangan filsafat ilmu pengetahuan

Perkembangan filsafat ilmu pengetahuan


Filsafat ilmu pengetahuan terlahir secara spontan. Perkembangan filsafat ilmu pengetahuan menjadi disiplin ilmu yang otonom, berlangsung di rentan waktu yang cukup lama.  Sebagai suatu disiplin, filsafat ilmu pengetahuan pertama-tama berusaha menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses ilmiah yaitu: prosedur pengamatan, pola-pola argumen, praandaian-praandaian metafisik dan sebagainya.
Filsafat memiliki tempat dan kedudukan yang khusus. Telaah filsafat tidak terbatas pada salah satu bidang atau lapisan kenyataan, melainkan meliputi semua bidang dan semua dimensi  yang di teliti ilmu-ilmu lain dan membuat bidang-bidang itu semua tanpa pengecualian menjadi objek langsung penelitiannya.  Tujuan filsafat adalah untuk mencari kebenaran yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dalam sistem konseptual.
Pokok kajian filsafat mencakup tiga segi, yakni apa yang di sebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa saja yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek.
Meskipun jawaban-jawaban filsafat tentang kebenaran bersifat mendasar dan menyeluruh, namun baru sebatas kebenaran konseptual. Baru dalam bentuk gagasan yang abstrak yang hanya ada dalam fikiran, bukan dalam bentuk konkret yang kebenarannya dapat di indra. Rasa ingin tahu manusa mendorong manusia untuk menemukan kebenaran konkret yang dapat di buktikan secara empiris. Kebenaran yang kemudian dikenal sebagai kebenaran ilmiah atau kebenaran ilmu pengetahuan.
Beda dengan filsafat, ilmu bersifat khusus atau regional, tidak bersifat total. Dalam ilmu, alat yang digunakan untuk menemukan kebenaran adalah nalar, logika, metode, dan sistematik. Sumbernya bersifat empirik, fakta apa adanya. Tujuannya adalah pembuktian kebenaran secara khusus dan terbatas. Produk ilmu pengetahuan berupa teori-teori ilmiah yang kebenarannya dapat di buktikan secara empiris. Dengan demikian kebenaran ilmu pengetahuan dapat diamati secara nyata melalui pengalaman empirik manusia.


sumber : Jalaluddin. 2013. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

Bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan (Bidang Aksiologi)

Bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan (Bidang Aksiologi)


Aksiologi berasal dari kata bahasa Yunani axios dan logos. Axios berarti nilai dan logos berarti teori. Aksiologi adalah" teori tentang nilai". Nilai merupakan realitas yang abstrak yang berfungsi sebagai daya pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam hidup. Nilai menempati kedudukan yang penting dalam kehidupan seseorang, sampai pada suatu tingkat dimana sementara orang lebih siap mengorbankan hidup dibanding mengorbankan nilai. Nilai dapat di lacak dari tiga realitas, yakni: pola tingkah laku, pola berfikir, dan sikap seorang pribadi atau kelompok.
Menurut Max Scheler, nilai-nilai itu terbangun dalam empat peringkat, yakni: nilai-nilai kenikmatan, nilai-nilai kehidupan, nilai-nilai kejiwaan dan nilai-nilai kerohanian. Manusia memahami nilai-nilai dengan hatiny, bukan dengan akal budinya. Lebih jauh di kemukakan bahwa nilai sebagai suatu kata benda abstrak mengandung dua pengertian. Dalam pengertian terbatas berupa sesuatu yang baik, pantas, dan menarik. Dalam pemgertian luas, nilai mengacu pada kewajiban, kebenaran, dan kesucian.
Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang di peroleh. Aksiologi berhubungan dengan penggunaan ilmu pemgetahuan. Seperti yang di maklumi, bahwa ilmu pengetahuan di tujukan untuk kepentingan hidup manusia. Ilmu pengetahuan membantu manusia mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menguasai ilmu pengetahuan, manusia mampu mengobservasi, memprediksi, memanipulasi, dan menguasai alam.



Sumber : Susanto. A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta. PT. Bumi Aksara

Bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan (bidang epistemologi)

Bidang kajian filsafat ilmu pengetahuan (bidang epistemologi)


Epustimologi verasal dari kata Yunani episteme yang berarti "pengetahuan", "pengrtahuan yang benar","pengetahuan ilmiah", dan logos berarti teori. Dengan demikian, secara etimologis, epistimologis dapat diartikan sebagai teori ilmu pengetahuan. Sebagai cabang filsafat, epistimologi menyelidiki asal, sifat, metode, dan bahasan pengetahuan manusia. Epistimologi juga disebut sebagai teori pengetahuan. Epistimologi sebagai ilmu pengetahuan membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.
Persoalan pokok etimologi adalah menyangkut peraoalan apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya. Epistimologi adalah pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada proses. Dalam pandangan epistimologi, setiap pengetahuan merupakan hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan benda hingga akhirnya diketahui manusia.
Semua pengetahuan berusaha untuk mengetahui kebenaran. Apa yang dapat diketahui tentang kebenaran. Epistemologi merupakan suatu bidang filsafat nilai yang mempersoalkan tentang hakikat kebenaran. Sebagai sebuah prosedur, epistemologi memiliki berbagai perangkat dalam upaya membantu kita memperoleh ilmu pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Namun, karena pendapat tentang kebenaran itu sendiri berbeda, sesuai dengan kriterianya masing-masing, maka epistemologi metode yang digunakan dlam memperoleh ilmu pengetahuan itu juga mengalami perbedaan.


Sumber : Susanto. A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta. PT. Bumi Aksara

Bidang Kajian Filsafat Ilmu Pengetahuan (bidang Ontologi)

Bidang Kajian Filsafat Ilmu Pengetahuan (bidang Ontologi)


Ontologi berasal dari kata Yunani on (ada), dan ontos berarti keberadaan. Sedangkan logos berarti pemikiran. Jadi ontologi adalah pemikiran mengenai yang ada dan kebenarannya. Kata Yunani onto berarti "yang ada secara nyata", kenyataan yang sesungguhnya. Ontologi adalah ilmu yang mengkaji tentang hakikat ilmu, dan hakikat apa yang dikaji. Dikemukakan pula bahwa ontologi ilmu mengkaji apa hakikat ilmu pengetahuan, apa hakikat kebenaran rasional atau kebenaran deduktif dan kenyataan empiris yang tidak terlepas dari persepsi tentang apa dan bagaimana yang "ada" itu.
Adapun yang dimaksud dengan ontologi adalah kajian yang memusatkan diri pada pemecahan esensi sesuatu yang wujud, tentang asas-asasnya dan realitas. Asas-asas tentang sesuatu wujud yang nyata. Keberadaan dan realitasnya dapat dicermati dan di tangkap oleh panca indera manusia. Dengan demikian, ontologi adalah telaah secara filsafat yang ingin menjawab objek apa yang trlah di telaah oleh ilmu? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan?
Dengan demikian ontologi membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang dapat dipikirkan manusia secara rasional yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Wilayah ontologi terdapat pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. Manakala ruang kajian ontologi tidak semata mata dihubungkan dengan panca indera manusia, melainkan juga pikiran (rasio), maka objek telaahnya menjadi tidak terbatas pada wujud materi semata. Tidak hanya objek yang bersifat fisik materi, tapi juga mencakup objek yang metafisik (metafisika).
Metafisika adalah studi mengenai ketegorisasi benda-benda di alam dan hunungannya antara satu dan yang lainnya. Ahli metafisika memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan. Jadi, objek dalam kajian ilmu pengetahuan dalam tataran ontologis tidak hanya menyangkut dan terbatas pada jangkauan panca indera manusia, melainkan juga akal pikiran (rasio) manusia.
Dalam pengertian yang lebih luas, secara garis besar, pengertian ontologi dapat dirumuskan menjadi :
Ontologi adalah studi tentang arti "ada" dan "berada", tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam arti dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak.
Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan kategori-kategori seperti ada tau menjadi, aktualitas atau potensialitas, nyata atau penampakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan dan sebaginya.
Ontologi adalah cabang ilmu filsafat yang mencoba melukiskan hakikat terakhir yang ada, yaitu yang satu, yang absolut, bentuk abadi, sempurna, dan keberadaan segala sesuatu yang mutlak bergantung kepada-Nya.
Ontologi adalah cabang ilmu filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya.



Sumber : Susanto. A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta. PT. Bumi Aksara

Objek filsafat ilmu

Objek filsafat ilmu

Menurut Jujun S. Suriasumantri, tiapbtiap pengetahuan memiliki tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang di susunnya. Komponen tersebut adalah ontologi, epistimologi dan aksiologi.
Ontologi menjelaskan atau menjawab untuk pertanyaan "apa", Epistimologi menjelaskan atau menjawab untuk pertanyaan "bagaimana", dan aksiologi menjawab menjelaskan atau menjawab pertanyaa "untuk apa?"
Penjelasan yang lebih mendalam tentang ketiga komponen tersebut ada di tulisan selanjutnya.


Sumber : Susanto. A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta. PT. Bumi Aksara

Pengertian Filsafat Ilmu pengetahuan

Pengertian Filsafat Ilmu pengetahuan


Beberapa ahli memberikan definisi tentang filsafat ilmu pengetahuan:
1. Michael V. Berry, filsafat ilmu adalah penelaahan tentang logika intern dan teori-teori ilmiah, dan hubungan-hubungan antar percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah. Filsafat ilmu adalah ilmi yang di pakai untuk menelaah logika-logika, teori ilmiah serta pelaksanaannya untuk menghasilkan suatu metode atau teori ilmiah.
2. May Brodbeck, filsafat ilmu adalah suatu analisis netral yang secara etis dan falsafi, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu. Ilmu itu harus bisa menganalisis, menggali, mengkaji dan bahkan melukiskannya sesuatu secara netral, etis dan filosofis, sehingga ilmu itu dapat di manfaatkan secara benar dan relevan.
3. Lewis White Beck, filsafat ilmu adalah ilmu yang mengkaji dan mengevaluasi metodebmetode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan. Melalui filsafat ini kita mampu memahamu dan menetapkan akan arti pentingnya usaha ilmiah, pengkajian ilmu pengetahuan secara menyeluruh.
4. A. Cornelius Benyamin, filsafat ilmu adalah studi sistematis mengenai sifat dan hakikat ilmu, khususnya yang berkenaan dengan metodenya, konsepnya, kedudukannya di dalam skema umum disiplin intelektual.
5. Robert Ackermann, filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapatbpendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah di buktikan atau dalam rangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu.
6. Jujun S. Suriasumantri, filsafat ilmu adalah suatu pengetahuan atau epistimologi yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tak lagi merupakan misteri. Secara garis besar, pengetahuan di gilongkan menjadi 3 kategori umum, yakni : 1) Pengetahuan tentang baik dan buruk yaang disebut juga dengan etika. 2) pengetahuan tentang yang indah dan yang jelek yang disebut estetika. 3) pengetahuan tentang yang benar dan yang salah yang disebut logika.


Sumber : Susanto. A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta. PT. Bumi Aksara

Hakikat ilmu dan pengetahan

Hakikat ilmu dan pengetahan

Definisi filsafat ilmu terdiri dari dua kata, yaitu kata filsafat dan kata ilmu. Masing-masing memiliki makna yang berbeda. Filsafat dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang kebijaksanaan, prinsip-prinsip mencari kebenaran, atu berfikir secara rasional dan logis, mendalam, dan tuntas dalam memperoleh kebenaran. Adapun kata ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu atau bagian dari pengetahuan. Menurut Maufur, ilmu adalah sebagian dari pengetahuan yang memiliki dan memenuhi perayaratan tertentu, artinya ilmu tentu saja merupakan pengetahuan, sedangkan pengetahuan belum tentu ilmu. Karena pengetahuan untuk dapat di kategorikan sebagai ilmu harus memenuhi beberapa persyaratan.
Beberapa syarat yang perlu di penuhi oleh suatu ilmu pengetahuan agar dapat di kategorikan sebagai ilmu pengetahuan adalah:
  1. Sistematis, artinya ada urutan dari awal hingga akhir dan ada hubungan yang bermakna antara bagian-bagian.
  2. General, artinya keumuman sifatnya yang bisa berlaku di manapun.
  3. Rasional, artinya ilmu sebagai pengetahuan ilmiah bersumber dari pemikiran rasional yang mematuhi kaidah-kaidah logika.
  4. Objektif, artinya apa adanya mengungkap realitas yang shahih bagi siapa saja.
  5. Menggunakan metode tertentu dalam mempertanyakan objek tertentu, mencari dan menemukan sesuatu sebagai kebenaran dan secara terus menerus.
  6. Dapat di pertanggungjawabkan dengan menggunakan argumentasi logis.
  7. Pengetahuan pada hakikatnya merupakab segenap apa yang kita ketahui tenang objek tertentu, termasuk di dalamnya adalah ilmu. Dengan demikian, ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia di samping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama.

Sumber : Susanto. A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta. PT. Bumi Aksara

Minggu, 23 Oktober 2016

Aliran Materialisme Filsafat

 Aliran Materialisme Filsafat

Materialisme adalah asal atau hakikat dari segala sesuatu, dimana asal atau hakikat dari segala sesuatu ialah materi. Karena itu materialisme mempersoalkan metafisika, namun metafisikanya adalah metafisika materialisme.

Materialisme adalah merupakan istilah dalam filsafat ontology yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, efistemologi, atau penjelasan historis. Maksudnya, suatu keyakinan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu selain materi yang sedang bergerak. Pada sisi ekstrem yang lain, materialisme adalah sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa pikiran ( roh, kesadaran, dan jiwa ) hanyalah materi yang sedang bergerak.
Materi dan alam semesta sama sekali tidak memiliki karakteristik-karakteristik pikiran dan tidak ada entitas-entitas nonmaterial. Realitas satu-satunya adalah materi. Setiap perubahan bersebab materi atau natura dan dunia fisik. Beberapa tokoh pemikir materialisme, antara lain :
a. Karl Marx (1818-1883)
Marx lahir di Trier Jerman pada tahun 1818.ayahnya merupakan seorang Yahudi dan pengacara yang cukup berada, dan ia masuk Protestan ketika Marx berusia enam tahun. Setelah dewasa Marx melanjutkan studinya ke universitas di Bonn, kemudian Berlin. Ia memperoleh gelar doktor dengan desertasinya tentang filsafat Epicurus dan Demoktirus. Kemudian, ia pun menjadi pengikut Hegelian sayap kiri dan pengikut Feurbach. Dalam usia dua puluh empat tahun, Marx menjadi redaktur Koran Rheinich Zeitung yang dibrendel pemerintahannya karena dianggap revolusioner.
Setelah ia menikah dengan Jenny Von Westphalen (1843) ia pergi ke Paris dan disinilah ia bertemu dengan F.Engels dan bersahabat dengannya. Tahun 1847, Marx dan Engels bergabung dengan Liga Komunis, dan atas permintaan liga komunis inilah, mereka mencetuskan Manifesto Komunis (1848).
Dasar filsafat Marx adalah bahwa setiap zaman, system produksi merupakan hal yang fundamental. Yang menjadi persoalan bukan cita-xita politik atau teologi yang berlebihan, melainkan suatu system produksi. Sejarah merupakan suatu perjuangan kelas, perjuangan kelas yang tertindas melawan kelas yang berkuasa. Pada waktu itu Eropa disebut kelas borjuis. Pada puncaknya dari sejarah ialah suatu masyarakat yang tidak berkelas, yang menurut Marx adalah masyarakat komunis.
b. Thomas Hobbes (1588-1679 M)
Menurut Thomas Hobbes materialisme menyangkal adanya jiwa atau roh karena keduanya hanyalah pancaran dari materi. Dapat dikatakan juga bahwa materialisme menyangkal adanya ruang mutlak lepas dari barang-barang material.
c. Hornby (1974)
Menurut Hornby materialisme adalah theory, belief, that only material thing exist (teori atau kepercayaan bahwa yang ada hanyalah benda-benda material saja).
Sebagian ahli lain mengatakan bahwa materialisme adalah kepercayaan bahwa yang ada hanyalah materi dalam gerak. Juga dikatakan kepercayaan bahwa pikiran memang ada, tetapi adanya pikiran disebabkan perubahan-perubahan materi. Materialisme juga berarti bahwa materi dan alam semesta tidak memiliki karakteristik pikiran, seperti tujuan, kesadaran, niat, tujuan, makna, arah, kecerdasan, kemauan atau upaya. Jadi, materialisme tidak mengakui adanya entitas nonmaterial, seperti roh, hantu, malaikat. Materialisme juga tidak mempercayai adanya Tuhan atau alam supranatural. Oleh sebab itu, penganut aturan ini menganggap bahwa satu-satunya realitas yang ada hanyalah materi. Segala perubahan yang tercipta pada dasarnya berkausa material. Pada ekselasi material menjadi suatu keniscayaan pada being of phenomena. Pada akhirnya dinyatakan bahwa materi dan segala perubahannya bersifat abadi.
d. Van Der Welj (2000)
Van Der Welj mengatakan bahwa materialisme dengan menyatakan bahwa materialisme ini terdiri atas suatu aglomerasi atom-atom yang dikuasai aleh hukum-hukum fisika-kimiawi. Bahkan, terbentuknya manusia sangat dimungkinkan berasal dari himpunan atom-atom tertinggi. Apa yang dikatakan kesadaran, jiwa, atau roh sebenarnya hanya setumpuk fungsi kegiatan dari otakyang bersifat sangat organik-materialistis.
Macam-Macam Materialisme :
  1. Materialisme rasionalistik. Materialisme rasionalistik menyatakan bahwa seluruh realitas dapat dimengeti seluruhnya berdasarkan ukuran dan bilangan (jumlah);
  2. Materialisme mitis atau biologis. Materialisme mitis atau biologis ini menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa material terdapat misteri yang mengungguli manusia. Misteri itu tidak berkaitan dengan prinsip immaterial.
  3. Materialisme parsial Materialisme parsial ini menyatakan bahwa pada sesuatu yang material tidak tedapat karakteristik khusus unsur immaterial atau formal;
  4. Materialisme antropologis. Materialisme antropologis ini menyatakan bahwa jiwa itu tidak ada karena yang dinamakan jiwa pada dasarnya hanyalah materi atau perubahan-perubahan fisik-kimiawi materi;
  5. Materialisme dialektik. Materialisme dialektik ini menyatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari materi. Berarti bahwa tiap-tiap benda atau atau kejadian dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses material. Salah satu prinsif di materialisme dialektik adalah bahwa perubahan dalam kuantitas. Oleh karena itu, perubahan dalam materi dapat menimbulkan perubahan dalam kehidupan, atau dengan kata lain kehidupan berasal dari materi yang mati. Semua makhluk hidup termasuk manusia berasal dari materi yang mati, dengan proses perkembangan yang terus-menerus ia menjadi materi yang memiliki kehidupan. Oleh karena itu kalau manusia mati, ia akan kembali kepada materi, tidak ada yang disebut dengan ke hidupan rohaniah. Ciri-ciri materialisme dialektik mempunyai asas-asas, yaitu :
  • Asas gerak;
  • Asas saling berhubungan;
  • Asas perubahan dari kuantitaif menjadi kualitatif;
  • Asas kontradiksi intern.
  
sumber : Susanto. A. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta : PT. Bumi Aksara 

Sabtu, 22 Oktober 2016

Hakikat kebenaran dalam filsafat



Dorongan rasa ingin tahu manusia ternyata tidak berlabuh pada rasa puas akan kebenarannya yang telah dijumpai. Kebenaran-kebenaran yang berdasar pengalaman tampaknya bukan pelabuhan terakhir atas keingintahuan manusia. Rasa ingin tahu ini kemudian menyusup ke kawasan yang paling mendalam yang berada di balik kebenaran yang tampak.
Kebenaran merupakan hakikat dari kebenaran itu sendiri. Dengan menggunakan kemampuan akal secara optimal, manusia terus menjajaki untuk menemukan hakikat segala yang wujud guna mengatasi segala macam masalah yang di hadapi di kehidupan sehari-hari.
Menemukan kebenaran yang hakiki tentang Tuhan, alam dan manusia. Awalnya upaya mencari kebenaran ini dilakukan melalui perenungan mengkritisi dan menganalisis secara mendalam. Aktivitas ini kemudian dikenal sebagai pemikiran filsafat.
Dalam sebagian besar dari sejarahnya, filsafat selalu membahas problema sehari-hari atau situasi manusiawi. Pemikiran filsafat memang berawal dari kesadaran manusia terhadap potensi nalarnya.
Pemikiran-pemikiran filsafat yang muncul sejalan dengan perkembangan peradaban di kawasan itu menunjukkan adanya saling keterkaitan antara pemikiran filsafat tersebut.


sumber : Jalaluddin. 2013. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

Mencari kebenaran dalam filsafat



Penelitian merupakan bagian dari upaya manusia untuk mememukan apa yang di sebut kebenaran. Sementara kebenaran itu telah ada sebelum manusia itu ada. Ia berada di luar alam manusia. Kebenaran itu sendiri bukan merupakan sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang. Dorongan ingin tahu yang ada pada dirinya, selalu mendorong manusia untuk terus mengembangkan pencarian tersebut. Dengan demikian, upaya untuk menemukan kebenaran itu sendiri merupakan aktivitas tanpa henti.
Manusia adalah makhluk multidimensional yang serba unik. Dalam diri manusia terdapat rahasia yang tidak pernah terungkap secara tuntas. Atas dasar semua ini, manusia menyandang beragam predikat. Para pakar dari berbagai disiplin ilmu menyebut manusia dengan beragam nama seperti phitecantropus erectus, homo erectus, dan homo economicus.
Diantara keunikan yang khusus dimiliki manusia adalah kemampuan berfikir dan rasa ingin tahu. Dengan adanya rasa ingin tahu ini manusia terdorong untuk terus bertanya tentang diri dan apa-apa yang ada di sekelilingnya. Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk terus berkelana dengan pikirannya, guna menemukan jawaban yang dianggapnya benar. Kebenaran bukanlah sesuatu yang ada dalam kesadaran kita sejak lahir. Kesadaran terhadap kebenaran harus di cari oleh setiap manusia. Manusia yang memiliki tanggung jawab terhadap hidupnya dan hidup orang lain tentu memerlukan kebenaran. Prosesnya cukup panjang dan lama.
Begitu seorang manusia menemukan kesadarannya, dia menuntut dirinya untuk hidup dalam apa yang disebutnya benar. Apa yang disebut benar oleh seseorang adalah apa yang sesuai dengan kesadarannya, yang disetujinya, yang dianggapnya baik, yang dianggapnya punya nilai, yang dapat di jadikan pegangan dalam bertindak. Kebenaran adalah sesuatu yang dikatakan "ya" kepadanya. Sesuatu yang sejalan dengan pemikiran kita. Apapun yang menurut pendapat kita adalah benar.
Selanjutnya, dalam sejarah manusia dikenal sejumlah lembaga yang kita kenal sebagai agama, ilmu, filsafat, dan seni. Lembaga kebenaran filsafat, alatnya adalah nalar, logika manusia yang bersifat spekulatif. Tujuannya adalah mencapai kebenaran yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dalam sistem konseptual. Ciri-ciri lembaga kebenaran ini adalah konseptual, logis, universal, mendasar, menyeluruh, "mutlak" dan langgeng. Sejarah lembaga kebenaran dijumpai di berbagai pusat peradaban purba manusia. Penjelasan ini menunjukan bukti, bahwa perjalanan manusia dalam upaya mencari kebenaran itu sudah cukup panjang.


sumber  :

Jalaluddin. 2013. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada