Rabu, 30 November 2016

Sarana Berfikir Ilmiah

Sarana Berfikir Ilmiah

Ada tiga sarana berpikir ilmiah :

1. Bahasa ilmiah

Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan seluruh cara berpikir dan proses kerja ilmiah. Karena itu bahasa memegang peran yang amat penting dalam bidang ilmu pengetahuan. Secara umum bahasa mengungkapkan keunikan manusia dan bukannya pada kemampuan berpikirnya. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Manusia setiap saatnya berinteraksi menggunakan bahasa yang lazim di daerahnya  Tanpa adanya bahasa, apa yang kita maksudkan tidak akan tersampaikan degan baik. Lebih buruk lagi, terjadinya perpecahan akibat adanya kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

2. Logika dan matematika

Logika dan matematika memiliki peran yang amat penting dalam cara berpikir deduktif. Matematika memegang peran penting dan dilihat sebagai kegemilangan intelektual. Ia justru memberi daya kuasa melalui bahasa, proses dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kuasa. Penghitungan matematis menjadi dasar desain ilmu teknik, metode matematis memberi inspirasi kepada pemikiran-pemikiran dalam bidang sosial dan ekonomi, kegiatan arsitektur dan seni lukis. Logika dan matematika menggunakn bahasa artifisial.

3. Logika dan statistik

Logika dan statistik memiliki peran penting dalam pemikiran induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum. Statistik merupakan data yang berwujud angka atau yang tidak berwujud angka. Sedangkan ilmu statistik merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari dan mengembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik.

 

Sumber : Kebung, Konrad. 2011. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher.

Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan

Persoalan pengetahuan ilmiah adalah persoalan dalam ilmu yang penting untuk segera di pecahkan melalui jawaban-jawaban. Ilmu muncul karena adanya persoalan dan persolan itu di ketahui sebagai yang tidak dapat terselesaikan dalam pengetahuan sehari-hari.
Selain itu, setiap ilmu dapat memecahkan masalah untuk mencapai kebenaran kendati itu bukan kebenaran akhir, melainkan jawaban yang selalu terbuka untuk di tes oleh orang lain.

The Liang Gie mengungkapkan lima ciri ilmu pnegetahuan yaitu :
1. Empiris, pengetahuan di peroleh berdasarkan pengalaman, pengamatan dan percobaan.
2. Sistematis, pengetahuan harus memiliki ketergantungan dan teratur.
3. Obyektif, ilmu bersifat apa adanya.
4. Analitis, pengetahuan ilmiah selalu berusaha membeda-bedakan secara jelas.
5. Verifikatif, pengetahuan ilmiah dapat di periksa kebenarannya.

Selain itu A.G.M van Melsen, mengemukakan delapan ciri ilmu pengetahuan antara lain :
1. Secara metodis ilmu pengetahuan harus mencapai suatu pemahaman atau keseluruhan yang kohern.
2. Ilmu harus hadir tanpa pamrih karena ini  berkaitan erat dengan tanggung jawab ilmuwan.
3. Ilmu pengetahuan bersifat universal.
4. Objektivitas.
5. Ilmu harus dapat di verifikasi oleh semua peneliti ilmiah dalam kaitan dengan ilmu bersangkutan oleh karena itu ilmu harus bersifat intersubyektif dan dapat di komunikasikan.
6. Sikap maju (progresivitas)
7. Kritis yang berarti setiap teori selalu terbuka kemungkinan untuk di kritik berdasarkan penemuan-penemuan baru.
8. Ilmu pengetahuan harus dapat di gunakan sebagai perwujudan hubungan timbal balik antara teori dengan praktik.

Sumber : Kebung, Konrad. 2011. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Salah satu ciri khas manusia adalah sifatnya yang selalu ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam sekelilingnya.keinginan tadi dapat bersifat sederhana, yaitu ingin tahu “apa”, baik namanya, kelompoknya maupun sifatnya. Tetapi keingintahuan tadi dapat juga bersifat kompleks, yaitu bila ingin tahu mengenai “bagaimana” dan “mengapa” peristiwa tersebut dapat terjadi. Ketiga landasan tersebut disebut landasan ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga landasan ini saling terkait.

Sejak kapan manusia menjadi selalu ingin tahu? Para ahli mengelompokkan kelahiran dan ilmu pengetahuan dalam 5 kelompok.

Zaman purbaPra-sejarah

Zamab ini ditandai dengan pengetahuan apa dan bagaimana ( Knowhow), yang diperoleh manusia melalui :

>kemampuan mengamati

>kemampuan membeda-bedakan

>kemampuan memilih

>kemampuan melakukan percobaan berdasarkan prinsip trial and error

Masa pra-sejarah (15.000 – 600 tahun sebelum masehi

Manusia mulai memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Manusia sebagai makhluk yang berpikir atau bernalar (Homo Sapiens). Ciri kemampuan masa ini antara lain :

>fungsi kontrol dan pengendalian alam

>fungsi imajinasi sebagai realisasi daya kreasi manusia

>sikap mentak dan penalaran yang reseptif dan empiris

 

Zaman penyelidikan atau penalaran; 600 SM dan 200 M (Yunani)

Pada masa ini mulai berkembang mengenai filsafat. Pada masa ini filsafat dibagi ke dalam dua sub, yaitu logika dan metodologi. Lgika adalah mata pelajaran mengenai alat. Mata pelajaran yang mengajarkan alat bagi mata oelajaran lain. Logika mebicarakan teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu perangkat bahan, fakta-fakta dan informasi. Metodologi adalah ilmu pengetahuan tentang metode dan khususnya metod ilmiah. Jadi bisa membahas metode yang lain seperti metode yang dipakai dalam sejarah.

Pada masa ini, lahirlah tokoh-tokoh terkenal yang karyanya sudag mendunia, yaitu Thales, Phytagoras, Socrates, Plato dan Aristoteles.

 

Zaman pertengahan (zaman renaissance (14-17 M))

Zaman pertengahan adalah abad dgan dtandainya tamilan theolog di laangan ilmu pengetahuan. Pra ilmuwan pada masa ini hampir terkait dengan aktivitas keagamaan. Karena itu muncul semboyan ” Ancilla Theologi” artinya kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama.

Pada zaman ini muncul kelompok “Positivisme” adalah kelompok Empirisme dan memberi makna. Tokoh-tokoh pada zaman pertengahan adalah Galileo dan Newton.

 

Zaman modern (17-19 M)

Tokoh yang dikenal sebagai bapak filsafat modern adalah Rene Descrates dan Issac Newton. Mereka telah mewariskan suatu metode berpikir yang menjadi landasan berpikir dalam ilmu pengetahuan modern.

Berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Prosedur dalam mendapatkan pengetahuan mengikuti alur berpikir yang dikenal sebagai metode ilmiah.

 

Zaman kontemporer

Zaman ini dikenal seorang ahli fisika yaitu Albert Einsten. Ia menyatakan bahwa alam itu tak terhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi status totalitasnya bersifat statis dri aktu ke waktu. Namun tahun 1929 seorang fisikawan lainnya yaitu Hubble yang menggunakan teropong bintang terbesar di dunia melihat galaksi disekeliling kita, tampak menjauhi galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya bumi. Observasi ini menunjukkan bahwa alam tidak statis.

Pada zaman ini ilmu berkembang cepat dan makin sempit serta mendalam karena teknologi sudah berkembang dengan pesat sehingga ilmu cepat berkembang.

Sumber : Kebung, Konrad. 2011. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher.

Minggu, 27 November 2016

Metode Filsafat

Metode Filsafat
Tidak sedikit para pakar mengatakan bahwa filsafat adalah upaya pencarian kebenaran dan Pencerahan. Dari berbagai pencarian itu, dapat dilihat berbagai metode yang telah di gunakan oleh para filsuf guna mendapatkan kebenaran dan Pencerahan tersebut.
Adapun berbagai metode itu setidaknya adalah seperti metode kritis, metode intuitif, metode skolastik, metode geometris, metode empiris, metode transendental, metode dialektis, metode fenomenologi, dan metode analisis bahasa.
Disamping metode-metode yang di sebutkan itu, tentu masih ada metode lain seperti strukturalis, dekonstruksi, post-strukturalis, semiotika, analisis wacana, dan lain-lain. Metode-metode ini juga di gunakan bukan semata dalam penelitan filsafat akan tetapi juga pada ilmu-ilmu khusus lainnya.
Filsafat memerlukan berbagai macam metode lantaran filsafat bertugas menerjemahkan atau menginterpretasikan semua bentuk pengalaman manusia. Namun, tentu saja tidak cuma bersifat empiris, karena filsafat berupaya menemukan gambaran kohern perihal berbagai pengalaman, bahkan jika perlu menarik kesimpulan yang mengatasi pengalaman itu sendiri. Filsafat ilmu pengetahuan, sebagai salah satu misalnya, berupaya untuk bersifat kritis terhadap semua bentuk pemikiran serta asumsi-asumsi yang mendasari pemikiran atau metode yang di gunakan.

Cara Belajar Filsafat

Cara Belajar Filsafat

Bagaimana caranya belajar filsafat?
Menurut Marx B. Woodhouse, dia mengemukakan benerapa syarat untuk belajar filsafat. Antara lain:
1. Diperlukan empat sikap batin yang mendukung terjadinya komunikasi secara efektif. Adapun empat sikap batin tersebut adalah sebagai berikut:
a. Keberanian untuk menguji secara kritis hal-hal yang kita yakini.
b. Kesediaan untuk mengajukan hipotesis-hipotesis tentatif dan untuk memberikan tanggapan awal terhadap suatu pernyataan filsafat.
c. Kesediaan untuk menempatkan tekad pencarian kebenaran di atas kepuasan diri sendiri karena telah "menang" dalam suatu perdebatan atau kekecewaan karena "kalah".
d. Kemampuan untuk memisahkan sikap/pandangan atau konflik pribadi karena ketidakmampuan memisahkan hal yang "pribad" ini akan membuat kekaburan berpikir dan menghambat diskusi.
2. Berfilsafat adalah keterampilan yang mesti dikembangkan dalam praktik. Disamping itu, karena persoalan filsafat sangat beragam dan licin, maka peminat filsafat mesti dapat menggunakan berbagai metode secara sensitif dan tepat, dengan menyadari kekhususan dan keterikatannya dengan yang lain.
3. Kita harus "belajar filsafat" dan "berfilsafat" sekaligus. Ini bisa dilakukan dengan membaca karya-karya filsuf/ilmuwan besar dengan sikap kritis. Dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis, lama kelamaan akan terlatih berpikir secara filosofis, dan cara berfikir yang demikian akan menjadi satu kebiasaan.
4. Dalam berfilsafat atau berfikir, hindarilah bersikap kekeuh dengan pendapat pribadi. Dengan kata lain, perlu argumen yang jelas mengapa anda setuju atau menyatakan bahwa suatu pendapat atau teori lebih baik dari pendapat atau teori lain.
5. Jangan mencampuradukan antara "argumen filosofis" dengan "praktik psikologi".
6. Filsafat memiliki dua sisi yaitu sisi kritis dan konstruktif. Umumnya kita terlebih dahulu belajar menganalisis berbagai sudut pandang filsafat orang lain sebelum kita menyusun spekulasi teoretis sendiri. Kritik pun bisa bersifat konstruktif dengan cara mengkritik kelemahan-kelemahan teori atau argumen orang lain. Biasanya, dengan cara ini, pandangan baru akan muncul dan bisa lebih baik dari pendapat sebelumnya.
7. Ketika mengkritik pendapat/argumen orang lain, usahakanlah terlebih dahulu mempertimbangkan kekuatan kritik anda. Hati-hatilah membuat pernyataan atau kesimpulan karena terdapat sejumlah klaim yang model dan cara pembuktiannya berbeda.

Kamis, 24 November 2016

Ciri Berfikir Filsafat

Ciri Berfikir Filsafat

Berfikir secara filosofis adalah berfikir dengan ketat, dengan mempertimbangkan penalaran atau penarikan kesimpulan secara hati-hati. Berfikir filsafat menuntut kejelasan, keruntutan, konsistensi dan sistematika. Ciri berfikir konsisten maksudnya ialah berfikir secara filsafat itu mestilah runtut atau konsisten antara satu gagasan dengan gagasan lain. Sedangkan sistematis maksudnya adalah berfikir mengikuti urutan/alur tertentu. Disamping itu, berfikir filosofis juga ditandai oleh sifat pemikiran yang menyeluruh, artinya melihat sesuatu secara tidak terpisah.
Berfikir secara filosofis itu adalah memberikan penjelasan tentang dunia, tentang manusia, tentang segala sesuatu, termasuk tentang bagaimana cara manusia mengetahui. Upaya untuk mengetahui segala sesuatu pada akhirnya bisa melahirkan satu sudut pandang dunia yang memberikan keterangan tentang dunia dan semua yang ada di dalamnya. Misalnya pandangan atomisme Demokritos dan Lucretius adalah suatu pandangan dunia.

Sumber : Lubis, Akhyar Yusuf. 2015. Filsafat Ilmu: Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.

Periodisasi Filsafat Barat (Periode Postmodern atau Kontemporer)

Periodisasi Filsafat Barat (Periode Postmodern atau Kontemporer)

Istilah postmodern mengandung berbagai pengertian. Secara kebahasaan, post berarti sesudah. Dengan demikian, post modern berarti filsafat atau pemikiran yang berkembang sesudah atau mengatasi era Modern. Tetapi ada pula yang mengartikan post modern bukan sebagai kebudayaan atau pemikiran yang berbeda atah terputus dari budaya dan pemikiran modern, tetapi kebudayaan dan pemikiran postmodern sekedar lanjutan dari modern dengan mencoba mengatasi berbagai kekurangan yang timbul dalam budaya dan pemikiran modern itu. Sementara pemikir yang lain menganggap bahwa post modern itu sebagai pemikiran dan budaya yang mencoba mengambil dari kebudayaan klasik atau modern sebagai dasar untuk pemikiran dan budaya postmodern itu. Dalam pandangan ini, postmodern dapat disebit sebagai sintesa atau perpaduan pemikiran dan kebudayaan klasik, modern, dan postmodern ke dalam cara berfikir atau kebudayaan baru.
Dalam wilayah epistemologi, pemikiran filsuf ilmu pengetahuan baru yang berkembang sekitar tahun 1960-an/1970-an dapat dianggap sebagai jembatan untuk memasuki gagasan tokoh postmodernis, khususnya di bidang epistemologi dan filsafat ilmu pengetahuan. Francois Lyotard misalnya adalah seorang filsuf yang mengemukakan bahwa telah terjadi pergeseran dalam ilmu pengetahuan dan budaya dari era Modern ke era Postmodern. Lyotard menolak metanarasi modernis tentang sains yang menekankan "kesatuan spekulatif dari semua ilmu pengetahuan"

Rabu, 23 November 2016

BIOGRAFI BETRAND RUSSELL FILSAFAT MODERN

BIOGRAFI BETRAND RUSSELL FILSAFAT MODERN

Bertrand Arthur William Russell adalah seorang filsuf dan ahli matematika ternama Britania Raya. Dia menulis banyak sekali buku dan brosur tentang berbagai masalah, antara lain filsafat, moral, pendidikan, sejarah, agama dan politik. Sumbangan terbesarnya di bidang ilmiah adalah di bidang logika matematika.


Riwayat hidup

Bertrand Russell lahir pada 18 Mei 1872 di Trellech, Monmouthshire, Britania Raya. Ia cucu dari Lord John Russell, Perdana Menteri Britania Raya di masa Ratu Victoria. Setelah meninggalnya ibu (pada tahun 1874) dan ayahnya (1876), Russell dan abangnya diasuh oleh kedua kakek-neneknya. Setelah meninggalnya John Russell pada tahun 1878, Russell kecil dibesarkan sepenuhnya oleh neneknya, Lady Russell. Bertrand Russell dididik secara privat di rumahnya, sebelum menempuh pendidikan di Trinity College, Universitas Cambridge. Di sana dia meraih gelar di bidang matematika dan ilmu-ilmu moral. Russell terpilih menjadi anggota Royal Society pada tahun 1908.

Karier Russell di Trinity College terhenti pada tahun 1916 karena aktivitas antiperangnya, yang menyebabkan dia dihukum dan didenda. Russell dipecat dari Trinity College sebagai buntut hukumannya itu. Dua tahun kemudian dia kembali dihukum, kali ini dipenjara selama enam bulan. Semasa dipenjara, Russell menulis buku Introduction to Mathematical Philosophy. Dia baru kembali ke Trinity pada tahun 1944.

Russell dianugerahi Order of Merit pada tahun 1949, dan menerima hadiah Nobel Sastra pada tahun 1950. Selama dasawarsa 1950-an dan 1960-an dia menjadi inspirasi kaum muda karena aktivitas antiperang dan antinuklirnya. Bersama-sama dengan Albert Einstein, dia mengumumkan Manifesto Russell-Einstein pada tahun 1955, yang menghimbau pembatasan senjata nuklir. Dia juga merupakan pengatur utama Konferensi Pugwash Pertama, yang mengumpulkan para ilmuwan yang prihatin terhadap penyebaran senjata nuklir. Pada tahun 1961 dia kembali dipenjara akibat demonstrasi antinuklir, dan dihukum penjara selama dua bulan. Namun setelah banding hukumannya ini kemudian diperingan menjadi satu minggu di rumah sakit penjara.

Pada tahun 1970 Russell meninggal dunia, dan seluruh bukunya diwariskan pada Universitas McMaster, Hamilton, Ontario, Kanada yang Beliau gabungkan sendiri ke dalam The Collected Papers of Bertrand Russell sebanyak 14 jilid ditambah Bibliography sebanyak 3 jilid.

Beberapa karya Bertrand Russell lain:

  • The Analysis of Mind (1921),
  • The Analysis of Matter (1927)
  • Human Knowledge, Its Scope and Limits (1948).
  • A History of Western Philosophy (1945).

BIOGRAFI WILLIAM JAMES FILSAFAT MODERN

BIOGRAFI WILLIAM JAMES FILSAFAT MODERN

William James lahir pada tanggal 11 Januari 1984 di New York City. Ayahnya, seorang kaya raya yang mandiri, adalah seorang penulis masalah-masalah teologis. Masa pendidikan awal James terkadang terganggu, ia mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang luas dan bervariasi, ia dapat belajar bahasa Perancis dan Jerman. Pada tahun 19864, ia sangat tertarik pada seni, tetapi sains menang dan ia masuk Harvard Medical School dengan mendapatkan gelar M.D pada tahun 1869. Pada tahun 1872 ia menjadi seorang guru psikologi di Harvard. Dorongan dan pluralisme dari komunitas akademik ini terbukti menjadi latar belakang bagi James. Di samping menaruh perhatian pada struktur tubuh, ia terpukau dengan persoalan struktur pikiran dan emosi manusia dan berbagai variasi pengalaman manusia. Ia juga disulitkan dengan masalah yang berkenaan dengan perdebatan antara kebebasan dan determinisme, kemungkinan kebenaran pasti, dan realitas Tuhan. Pada tahun 1875, ia mengajar kursus psikologi, dan ia mulai memberikan kursus filsafat di Harvard, tentang esai-esai yang mengenai perdebatan determinisme-kebebasan, sifat rasionalisme dan kesesuaian antara sains dan agama pada tahun 1880-an.

Karya-karya yang paling penting dimana ide-ide ini dikembangkan mencakup beberapa hal, yakni :
1. The will to be believe, (1897)
2. The Variety of Religious Experience (1902)
3. Pragmatism (1907)
4. A Pluralistic Universe (1909)
5. Essay in Radikal Empirism (1912), setelah James meninggal.

Pemikiran William James
Untuk menjelaskan pandangan-pandangan yang dikemukakan James, kita harus mulai dengan teorinya tentang kesadaran, yang sebagian besar dikembangkan secara lengkap di dalam The Principles of Psychology. James percaya bahwa psikologi dan filsafat erat-terkait melalui cara berikut: keduanya perlu menekankan deskripsi tentang pengalaman manusia dan juga tujuan menemukan penjelasan kausal.

Setelah menerbitkan The Principles of Psychology, James mempersembahkan dirinya lebih lanjut di dalam penjelajahan filosofis. Namun, ini tidak berarti bahwa ia memutuskan diri dari perhatian awalnya pada psikologi dan fisiologi. Dalam kenyataannya, karya filosofisnya dapat dipandang mengambil beberapa cabang sentral dari penekanan awalnya pada satu ide : bahwa kesadaran manusia adalah sebuah kekuatan aktif, selektif, bertujuan, yang dengannya manusia membentuk sebuah lingkungan yang religius dan lunak menjadi pola-pola yang bermakna. Dari fondasi ini, tulisan-tulisan lima belas tahun terakhir dari hidup James berpusat pada (1) arti penting pilihan dalam menentukan kepercayaan kita, (2) penilaian tentang hidup religius manusia, (3) hakikat makna dan kebenaran, dan (4) perkembangan sebuah metafisika pluralistik (yakni sebuah pandangan yang menekankan otonomi dan independensi hal-hal individual di alam semesta, hubungan dan ketergantungannya satu sama lain).

Ia juga meletakkan prinsip ini ke dalam praktek dan menunjukkan lima karakteristik dasar kesadaran dan pikiran kita, yaitu :
  1. Pikiran bersifat personal-pengalaman diatur, keduanya memiliki seseorang.
  2. Pikiran dan pengalaman berada di dalam perubahan yang konstan. Tidak ada dua pengalaman yang pernah identik, “sebuah keadaan yang telah berlaku tidak akan pernah kembali dan identik dengan apa yang sebelumnya”. James tidak mengingkari bahwa mengalami obyek yang sama sekali, tapi pengalaman kita tentang sebuah obyek memiliki sifat yang berbeda pada kesempatan-kesempatan yang berbeda.
  3. Ada keberlanjutan dan juga perubahan di dalam pikiran dan pengalaman
  4. Pikiran bersifat kognitif, dan pikiran berkenaan dengan sesuatu selain dirinya sendiri
  5. Kesadaran bersifat selektif, kesadaran berkonsentrasi pada beberapa hal dan mengingkari beberapa hal yang lain.

BIOGRAFI KARL MARX TOKOH FILSAFAT MODERN

BIOGRAFI KARL MARX TOKOH FILSAFAT MODERN


Karl Heinrich Marx, lahir di Trier – Jerman, 05 Mei 1818 dan meninggal di London, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun. Ia lahir setelah perang Napoleon, dan setahun setelah David Ricardo.
Karl Marx berasal dari keluarga progresif Yahudi. Keluarganya merupakan keluarga  borjuis dan berpendidikan.
 Ayahnya bernama Herschel, seorang ahli hukum dan keturunan para rabi, walaupun begitu ayahnya kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, yaitu Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich


Karl Marx menjalani sekolah di rumah sampai Ia berumur 13 tahun. Setelah lulus dari Gymnasium Trier, Ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Bonn jurusan hukum pada tahun 1835.

Pada usianya yang ke – 17, dimana Ia bergabung dengan klub minuman keras Trier Tavern yang mengakibatkan Ia mendapat nilai yang buruk. Ia tertarik untuk belajar kesastraan dan filosofi, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena Ia tak percaya bahwa anaknya akan berhasil memotivasi dirinya sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana.

Pada tahun berikutnya, ayahnya memaksa Karl Marx untuk pindah ke universitas yang lebih baik, yaitu Friedrich Wilhelms Universität di Berlin. Pada saat itu, Ia lebih berminat ke ilmu filsafat. Ia begitu terkesima dengan filsafat seorang filusuf yang bernama Georg Wilhelm Friedrich Hegel, dimana ketika itu arus besar pengikut pandangan Hegel begitu meluas.


 Ia termasuk dalam kategoris aliran klasik, selain August Comte, Durkheim, Weber, Simmel, Spencer,
 Karya-karya Karl Max 

Economic and Philosophical Manuscript, The German Ideology, The Class Strrunggles in France and the Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, The Communist Manifesto, Das Capital.
Marx mengartikan sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat; tingkah laku, perubahan social, konflik dan kelas sosialnya. Karl Marx memunculkan teori-teori dalam sosiologi, yaitu, konflik dan kelas sosial, perubahan sosial, alienasi.

Marx menggunakan metode-metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu teori tentang perubahan yang menunjukkan perkembangan masyarakat menuju suatu keadaan terwujud keadilan sosial. Perubahan sosial bagi Marx berjalan dialektis. Pertentangan, kontradiksi antar kelas akhir mencari kesimbangan. Tahapan sejarah masyarakat bagi Marx adalah sebagai berikut; feodalisme, kapitalisme dan sosialisme/komunisme.

Alienasi bagi Marx terjadi disaat manusia itu sebagai pekerja itu terasing dan dikuasai oleh hasil kerjanya, produksinya. Manusia diasingkan dari produk hasil kerjaannya, terasing dari kegiatan produksi, terasing dari sifat sosialnya, terasing dari rekan-rekannya atau masyarakatnya.

Marx biasanya mengartikan kelas digunakan untuk menyatakan sekelompok orang yang berada dalam situasi yang sama dalam hubungannya dengan kontrol mereka terhadap alat-alat produksi.

Ada dua macam kelas yang dikemukakan Marx ketika menganalisa kapitalisme;

1. kelas borjuis dan 2. kelas proletar.
Marx merupakan tokoh pengkritik system kapitalis paling awal dan paling sengit. Sosiologi humanis dan sosiologi kritis banyak mengambil teori alienasi Karl Marx. Dia menolak kapitalisme karena menyebabkan pengangguran, kosentrasi modal satu golongan, dan bertambahnya kesengsaraan kaum proletar

BIOGRAFI JOHN LOCKE TOKOH FILSAFAT MODERN

BIOGRAFI JOHN LOCKE
John Locke lahir 29 Agustus 1632  adalah seorang filsuf dari Inggris. Salah satu tokoh yang mempunyai pendekatan empiris dan aktif dalam bidang politik dan filsuf negara liberal. Locke juga menekankan pentingnya pendekatan empiris dan juga pentingnya eksperimen-eksperimen di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Pemikiran Locke manusia mendapat pengetahuan memiliki dua implikasi penting. Pertama, munculnya anggapan bahwa seluruh pengetahuan manusia berasal dari pengalaman, dan tiadanya pengetahuan secara apriori (sebelum pengalaman). Kedua, semua hal yang manusia diketahui melalui pengalaman, bukanlah obyek atau benda pada dirinya sendiri, melainkan hanya kesan-kesan indrawi dari hal itu yang diterima oleh panca indra manusia. Pemikiran Locke tidak hanya berhubungan dengan filsafat, tetapi juga tentang pendidikan, ekonomi, teologi, dan medis. Locke dipandang sebagai salah satu figur terpenting di era Pencerahan. Menurut Locke, seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman manusia. Posisi ini adalah posisi empirisme yang menolak pendapat kaum rasionalis yang mengatakan sumber pengetahuan manusia yang terutama berasal dari rasio atau pikiran manusia. Meskipun demikian, rasio atau pikiran berperan juga di dalam proses manusia memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, Locke berpendapat bahwa sebelum seorang manusia mengalami sesuatu, pikiran atau rasio manusia itu belum berfungsi atau masih kosong. Situasi tersebut diibaratkan Locke seperti sebuah kertas putih (tabula rasa) yang kemudian mendapatkan isinya dari pengalaman yang dijalani oleh manusia itu. Rasio manusia hanya berfungsi untuk mengolah pengalaman-pengalaman manusia menjadi pengetahuan sehingga sumber utama pengetahuan menurut Locke adalah pengalaman. Lebih lanjut, Locke menyatakan ada dua macam pengalaman manusia, yakni pengalaman lahiriah (sense atau eksternal sensation) dan pengalaman batiniah (internal sense atau reflection). Pengalaman lahiriah adalah pengalaman yang menangkap aktivitas indrawi yaitu segala aktivitas material yang berhubungan dengan panca indra manusia. Kemudian pengalaman batiniah terjadi ketika manusia memiliki kesadaran terhadap aktivitasnya sendiri dengan cara 'mengingat', 'menghendaki', 'meyakini', dan sebagainya. Kedua bentuk pengalaman manusia inilah yang akan membentuk pengetahuan melalui proses selanjutnya.  Ada empat jenis pandangan sederhana:
  1. Pandangan yang hanya diterima oleh satu indra manusia saja. Misalnya, warna diterima oleh mata, dan bunyi diterima oleh telinga.
  2. Pandangan yang diterima oleh beberapa indra, misalnya saja ruang dan gerak.
  3. Pandangan yang dihasilkan oleh refleksi kesadaran manusia, misalnya ingatan.
  4. Pandangan yang menyertai saat-saat terjadinya proses penerimaan dan refleksi. Misalnya, rasa tertarik, rasa heran, dan waktu.
Pandangan yang menyertai saat-saat terjadinya proses penerimaan dan refleksi. Misalnya, rasa tertarik, rasa heran, dan waktu. Ada tiga jenis pandangan kompleks yang terbentuk:
  1. substansi atau sesuatu yang berdiri sendiri, misalnya pengetahuan tentang manusia atau tumbuhan.
  2. modi (cara mengada suatu hal) atau pandangan kompleks yang keberadaannya bergantung kepada substansi. Misalnya, siang adalah modus dari hari.
  3. hubungan sebab-akibat (kausalitas). Misalnya saja, pandangan kausalitas dalam pernyataan: "air mendidih karena dipanaskan hingga suhu 100° Celcius"
Pandangan Locke tentang negara terdapat di dalam bukunya yang berjudul "Dua Tulisan tentang Pemerintahan”. Ia menjelaskan pandangannya itu dengan menganalisis tahap-tahap perkembangan masyarakat. Locke membagi perkembangan masyarakat menjadi tiga, yakni keadaan alamiah, keadaan perang, dan negara.
John Locke seorang filsuf zaman pencerahan memiliki pemikiran dasar bahwa manusia pada mulanya hidup dalam keadaan alamiah, dengan hak-hak kebebasan dan hak milik. Untuk dapat memelihara hak-haknya itu dengan lebih baik, manusia membuat suatu kontrak sosial yang kemudian membentuk suatu masyarakat politik dengan suatu pemerintahan yang berkuasa berdasarkan keputusan mayoritas.

Tokoh-tokoh Filsafat Modern


Tokoh-tokoh Filsafat Modern 

Filsafat Modern adalah pembagian dalam sejarah Filsafat Barat yang menjadi tanda berakhirnya era skolastisisme. Waktu munculnya filsafat modern adalah abad ke-17 hingga awal abad ke-20 di Eropa Barat dan Amerika Utara. Filsafat Modern ini pun dimulai sejak munculnya rasionalisme lewat pemikiran Descartes, seorang filsuf terkemuka pada zaman Modern.   
Berikut ini Tokoh-tokoh Filsafat Modern:
Empirisisme
·            John Locke
·            George Berkeley
·            David Hume
Filsafat Politik
·            Thomas Hobbes
·            John Locke
·            Jean-Jacques Rousseau
·            Karl Marx
·            Friedrich Engels
·            John Stuart Mill
·            Jeremy Bentham
·            James Mill

Idealisme
·            Immanuel Kant
·            Georg Wilhelm Friedrich Hegel
·            Arthur Schopenhauer
·            Francis Herbert Bradley

Eksistensialisme
·            Søren Kierkegaard
·            Friedrich Nietzsche

Fenomenologi
·            Edmund Husserl
·            Martin Heidanger

Pragmatisme
·            Charles Sanders Pierce
·            William James
·            John Dewey

Filsafat Analitis
·            Rudolf Carnap
·            Gottlob Frege
·            George Edward More
·            Bertrand Russell
·            Moritz Schlick
·            Ludwig Wittgenstein

Periodisasi Filsafat barat (Periode Modern)

Periodisasi Filsafat barat (Periode Modern)

Periode ini umumnya di bagi menjadi dua, yakni masa Renaisans dan masa Pencerahan. Masa Renaisans dan Pencerahan adalah periode yang menjembatani abad pertengahan ke abad modern. Banyak ilmuwan dan filsuf memasukan zaman ini ke dalam zaman modern. Zaman pencerahan adalah zaman yang menghasilkan pemikiran yang sangat berpengaruh bagi seluruh aspek kebudayaan modern. Pada masa Renaisans muncul kembali upaya pembangkitan kebebasan berfikir seperti pada masa Yunani. Kombinasi filsafat Yunani dengan humanisme telah melahirkan kebebasan individu pada zaman itu. Manusia sebagai individu, menjadi pusat dari segala-galanya. Karya agung dalam seni lukis dan seni pahat menjadi keagungan manusia. Adapun otoritas gereja mulai memudar dan mulai tumbuh ketidakpercayaan pada kebenaran mutlak agama. Mulai berkembang bibit reformasi yang berbuah pada abad ke-16/17 dengan pemisahan Protestan dan Katolik.
Pemikiran zaman Renaisans dan pasca Renaisans yang di sebut pencerahan adalah pemikiran yang menjadi dasar spiritual bagi zaman modern. Melalui para pemikir zaman ini terjadi perubahan minat yang besar dari permasalahan metafisika Abad Pertengahan kepada fisika, peralihan dari metode berfikir spekulatif ke eksperimental matematis. Terjadi pula peralihan dari pemikiran sosial-politik yang di dasarkan atas teologi ke pemikiran yang antroposentris. Renaisans dan Pencerahan adalah pintu masuk ke zaman modern yang di tandai oleh penduniawian ajaran/pemikiran, keyakinan akan kemampuan akal, berkembangnya paham utilitarianisme, dan optimisme dan percaya diri.
Pemikir zaman Renaisans dan Pencerahan berjasa besar dalam memajukan penalaran ilmiah pada abad ke-16 dan ke-17 dan mengawali apa yang di sebut dengan filsafat modern atau dunia modern.

Periodisasi Filsafat barat (Periode Abad Pertengahan)

Periodisasi Filsafat barat (Periode Abad Pertengahan)

Periode ini umumnya dibagi menjadi dua, yakni zaman Partistik dan zaman Skolastik. Setelah berkembangnya agama Kristen di Barat, fokus pemikiran filsafat berpusat pada ajaran-ajaran agama Kristen sehingga disebut teosentris.
Filsafat dan pengetahuan pada zaman ini hanya di tujukan sebagai alat untuk mengabdi pada teologi. Para filsuf zaman ini umumnya percaya bahwa kebenaran sejati hanya ada pada kitab suci.
Pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi pengaruh filsafat Yunani mulai benar-benar masuk ke kalangan gereja.
Filsafat Skolastik mencapai puncaknya melalui Thomas Aquinas. Ia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari pengalaman, kemudian pengalaman itu diolah oleh rasio kita. Ia berpendapat bahwa masalah agama harus di selesaikan melalui kepercayaan, namun akal tetap di butuhkan.

Periodisasi Filsafat barat (Periode Yunani)

Periodisasi Filsafat barat (Periode Yunani)

Pada periode ini, filsafat pada umumnya  dibagi dua. Pertama, masa pra-Socrates dan kedua, masa Yunani klasik atau juga selepas masa pra-Scorates. Pada masa pra-Scorates filsafat bercirikan kosmosentris. Pemikiran para filsuf Yunani di masa itu berkaitan dengan pertanyaan tentang alam dan terbuat dari apa alam itu. Berdasarkan rasio, para filsuf masa ini sampai pada kesimpulan bahwa alam itu merupakan satu susunan yang teratur dan harmonis. Karena itu, filsafat pada masa pra-Scorates ini disebut kosmosentris.
Thales adalah filsuf alam, yang berusaha untuk memberikan jawaban terkait asal-mula alam dengan mengabadikan penjelasan mitos dan dewa-dewa Yunani. Ia berpendapat bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan manusia berkembang dari ikan.
Phytagoras adalah filsuf pra-Scorates yang berpendapat bahwa adanya harmoni pada alam atau benda-benda dibuat atas dasar prinsip bilangan matematika. Tentang masalah jiwa, ia berpendapat bahwa jiwa tidak dapat mati. Bila seseorang mati, roh/jiwanya akan tetap abadi dan akan berubah menjadi makhluk hidup lain. Adapun segala yang ada dilahirkan kembali dalam siklus tertentu. Dalam pemikiran phytagoras, segala sesuatu pada akhirnya dapat di reduksi ke dalam perhitungan angka-angka.
Scorates adalah filsuf yang tinggal di kota Athena, ketika kota itu mencapai puncak kejayaan dibawah kekuasaan raja Pericles. Socrates adalah orang yang paling bijaksana di dunia pada zamannya.

Dari mitos ke logos.

Dari mitos ke logos.

Bertanya dan mencari jawaban atas berbagai macam pertanyaan telah di lakukan oleh para filsuf sepanjang sejarah pemikiran selama ribuan tahun. Pertanyaan pertanyaan itu seperti dari manakah asal mula alam, apakah alam ini terjadi dari materi belaka atau justru di ciptakan oleh Tuhan sebagai perancang agung alam semesta, apakah manusia itu secara prinsip sama dengan binatang ataukah ia justru makhluk rasional yang di ciptakan Tuhan dan bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan hidupnya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Adapun pertanyaan-pertanyaan filosofis muncul saat manusia mulai menyadari bahwa dirinya berbeda dengan alam. Pada alam fikiran mistis, manusia, alam, ttumbuhan dan binatang di golongkan dalam satu kelas. Maksudnya tidak ada perbedaan antara manusia dengan objek lain. Alam dianggap memiliki kekuatan jiwa yang disebut anima. Pandangan pra logis ini disebut dengan hylozoisme. Pandangan ini lantas berganti dengan pandangan dunia logis yang melihat adanya perbedaan antara manusia dengan alam. Pada tahap ini manusia mulai mempertanyakan antara manusia dengan dirinya. Disinilah filsafat muncul musabab ketidakpuasan para filsuf atas penjelasan mitos ihwal berbagai hal yang tidak dapat di justifikasi baik oleh rasio maupun pengalaman.
Penjelasan mitologi dianggap tidak memenuhi tuntutan rasio atau logos. Sebab itu para filsuf mencari jawaban yang lebih rasional sehingga lebih dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya.
Karena penjelasan mitologi tidak dapat di jelaskan atau di kontrol oleh rasio, maka tokoh filsafat yunani mulai memberikan penjelasan mengenai berbagai masalah yang di dasarkan atas penjelasan atau argumen yang rasional. Oleh sebab itu, filsafat lahir ketika logos (akal budi atau rasio) menggantikan mitos.

Minggu, 20 November 2016

BATAS HARAPAN DALAM FILSAFAT

BATAS HARAPAN DALAM FILSAFAT

Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya.
Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan, Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
Harapan berasal dan kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.Jadi untuk mewujudkan harapan itu harus disertai dengan usaha yang sesuai dengan apa yang diharapkan Bila dibandingkan dengan cita-cita , maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk: sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang. Antar harapan dan cita-cita terdapat persamaam yaitu
  • keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud
  • pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.

Persamaan Harapan dan Cita-cita
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
Cita-cita merupakan Impian yang disertai dengan tindakan dan juga di berikan batas waktu. Jadi kalau kita bermimpi untuk menjadi netpreneur yang sukses, ya… harus di sertai tindakan jangan cuma berandai-andai saja. Serta jangan lupa di berikan target waktu sehingga kita punya timeline kapan hal tersebut kita inginkan terealiasasi.
Dari kecil kita pasti dinasehati oleh orangtua, guru ataupun buku untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit. Semua itu memang benar karena dengan adanya cita-cita atau impian dalam hidup kita akan membuat kita semangat dan bekerja keras untuk menggapai kehidupan yang lebih baik di dunia.
Cita-cita yang baik adalah cita-cita yang dapat dicapai melalui kerja keras, kreativitas, inovasi, dukungan orang lain dan sebagainya. Khayalan hasil melamun cenderung tidak logis dan bersifat mubazir karena banyak waktu yang terbuang untuk menghayal yang tidak-tidak.
Dalam bercita-cita pun sebaiknya jangan terlalu mendetail dan fanatik karena kita bisa dibuat stres dan depresi jika tidak tercapai. Contoh adalah seseorang yang punya cita-cita jadi dokter. Ketika dia tidak masuk jurusan ipa dia stress, lalu gagal snmptn / spmb kedokteran dia stress, dan seterusnya.
Tidak semua orang bisa menentukan cita-cita. Jika tidak bisa menentukan cita-cita, maka bercita-citalah untuk menjadi orang yang berguna dan dicintai orang banyak dengan hidup yang berkecukupan. Untuk mendapatkan motivasi dalam mengejar cita-cita kita bisa mempelajari kisah sukses orang lain atau membaca atau melihat film motivasi hidup seperti laskar pelangi.
Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk, sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang. Antara harapan dan cita-cita terdapat persamaan yaitu: keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud, pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik ataumeningkat.

Sejarah kerajaan Banten

Sejarah kerajaan Banten merupakan kerajaan Islam yang terletak di Propinsi Banten. Mulanya, kerajaan Banten berada dibawah kekuasaan Kerajaan Demak. Namun, Banten berhasil melepaskan diri ketika mundurnya Kerajaan Demak. Pemimpin Kerajaan Banten pertama adalah Sultan Hasanuddin yang memerintah pada tahun 1522-1570. Sultan Hasanuddin berhasil membuat Banten sebagai pusat perdagangan dengan memperluas sampai ke daerah Lampung, penghasil lada di Sumatera Selatan. Tahun 1570 Sultan Hasanuddin meninggal kemudian dilanjutkan anaknya, Maulana Yusuf (1570-1580) yang berhasil menakhlukkan Kerajaan Pajajaran pada tahun 1579. Setelah itu, dilanjutkan oleh Maulana Muhammad (1585-1596) yang meninggal pada penakhlukkan Palembang sehingga tidak berhasil mempersempit gerakan Portugal di Nusantara.

Kejayaan Kerajaan Banten

Kerajaan Banten mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Dimana, Banten membangun armada dengan contoh Eropa serta memberi upah kepada pekerja Eropa. Namun, Sultan Ageng Tirtayasa sangat menentang Belanda yang terbentuk dalam VOC dan berusaha keluar dari tekanan VOC yang telah memblokade kapal dagang menuju Banten. Selain itu, Banten juga melakukan monopoli Lada di Lampung yang menjadi perantara perdagangan dengan negara-negara lain sehingga Banten menjadi wilayah yang multi etnis dan perdagangannya berkembang dengan pesat.

Sejarah Kerajaan Banten

Kemunduran Kerajaan Banten

Kerajaan Banten mengalami kemunduruan berawal dari perselisihan antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji atas dasar perebutan kekuasaan. Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC dengan memihak kepada Sultan Haji. Kemudian Sultan Ageng bersama dua putranya yang lain bernama Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf terpaksa mundur dan pergi ke arah pedalaman Sunda. Namun, pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng berhasil ditangkap dan ditahan di Batavia. Dilanjutkan pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf juga berhasil ditawan oleh VOC dan Pangeran purbaya akhirnya menyerahkan diri.

Atas kemenangannya itu, Sultan Haji memberikan balasan kepada VOC berupa penyerahan Lampung pada tahun 1682. Kemudian pada 22 Agustus 1682 terdapat surat perjanjian bahwa Hak monopoli perdagangan lada Lampung jatuh ketangan VOC. Sultan Haji meninggal pada tahun 1687. Setelah itu, VOC menguasai Banten sehingga pengangkatan Sultan Banten harus mendapat persetujuan Gubernur Jendral Hindian Belanda di Batavia.

Terpilihlah Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya sebagai pengganti Sultan Haji kemudian digantikan oleh Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Aabidin. Pada tahun 1808-1810, Gubernur Hindia Jenderal Belanda menyerang Banten pada masa pemerintahan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin.

Penyerangan tersebut akibat Sultan menolak permintaan Hindia Belanda untuk memindahkan ibu kota Banten ke Anyer. Pada akhirnya, tahun 1813 Banten telah runtuh ditangan Inggris.