Jumat, 30 September 2016

Aliran Positivisme dalam Filsafat

             PENGERTIAN POSITIVISME
Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah.
Positivisme (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivismemerupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini.
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham realisme, materialisme , naturalisme, filsafat dan empirisme.
Sejarah Muncul
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang menyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari. Positivisme, dalam pengertian di atas dan sebagai pendekatan telah dikenal sejak Yunani Kuno. Terminologi positivisme dicetuskan pada pertengahan abad ke-19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi yaitu Auguste Comte. Comte percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga tahapan historis yaitu teologi, metadisik, dan ilmiah. Dalam tahap teologi, fenomena alam dan sosial dapat dijelaskan berdasarkan kekuatan spiritual. Pada tahap metafisik manusia akan mencari penyebab akhir (ultimate causes) dari setiap fenomena yang terjadi. Dalam tahapan ilmiah usaha untuk menjelasakn fenomena akan ditinggalkandan ilmuan hanya akan mencari korelasi antarfenomena. Pengembangan penting dalam paham positivisme klasik dilakukan oleh ahli ilmu alam Ernst Mach yang mengusulkan pendekatan teori secara fiksi. Teori ilmiah bermanfaat sebagai alat untuk menghafal, tetapi perkembangan ilmu hanya terjadi bila fiksi yang bermanfaat digantikan dengan pernyataan yang mengandung hal yang dapat diobservasi. Meskipun Comte dan Mach mempunyai pengaruh yang besar dalam penulisan ilmu ekonomi (Comte mempengaruhi pemikiran J.S. Mill dan Pareto sedangkan pandangan Mach diteruskan oleh Samuelson dan Machlup). Pengaruh yang paling utama adalah ide dalam pembentukan filosofi ilmiah pada abad 20 yang disebt logika positivisme (logical positivism).
Ajaran Pokok Positivsme logis
pernyataan-pernyataan metafisik tidak bermakna. Pernyataan itu tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan tautologi yang berguna. Tidak ada cara yang mungkin untuk mentukan kebenarannya ( atau kesalahannya ) dengan mengacu pada pengalaman. Tidak ada pengalaman yang mungkin yang pernah dapat mendukung pertanyaan-pertanyaan metafisik seperti : “ Yang tiada itu sendiri tiada” ( The nothing it self nothing- Das Nichts selbst nichest, Martin Heidegger ), “ yang mutlak mengatasi Waktu”, “ allah adalah Sempurna “, ada murni tidak mempunyai ciri “, pernyataan-pernyataan metafisik adalah semu. Metafisik berisi ucapan-ucapan yang tak bermakna.
Auguste Comte ( 1798-1857 ) ia memiliki peranan yang sangat penting dalam aliran ini. Istilah “positivisme” ia populerkan. Ia menjelaskan perkembangan pemikiran manusia dalam kerangka tiga tahap. Pertama,tahap teologis. Disini , peristiwa-peristiwa dalam alam dijelaskan dengan istilah-istilah kehendak atau tingkah dewa-dewi. Kedua, tahap metafisik. Disini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan melalui hukum-hukum umum tentang alam. Dan ketiga, tahap positif.Disini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan secara ilmiah.
Upaya-upaya kaum positivis untuk mentransformasikan positivisme menjadi semacam “agama baru”,cendrung mendiskreditkan pandangan-pandangannya. Tetapi tekanan pada fakta-fakta, indentifikasi atas fakta-fakta dengan pengamatan-pengamatan indera,dan upya untuk menjelaskan hukum-hukum umum dengan induksi berdasarkan fakta,diterima dan de ngan cara berbeda-beda diperluas oleh J.S Mill ( 1806-1873 ).E.Mach (1838-1916 ), K.Pierson ( 1857-1936 ) dan P.Brdgeman ( 1882-1961 ).

sumber : Susanto. A. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Pengertian Filsafat Secara Terminologi



Selain secara etimologi, filsafat juga memiliki arti secara terminologi. Berikut pengertian filsafat secara terminology.
  1. Phytagoras (572-497 SM). Dalam tradisi filsafat zaman Yunani Kuno, Phytagoras adalah orang yang pertama-tama memperkenalkan istilah philosophia, yang kemudian dikenal dengan istilah filsafat. Phytagoras memberikan definisi filsafat sebagai the love of wisdom. Menurutnya, manusia yang paling tinggi nilainya adalah manusia pecinta kebijakan (lover of wisdom), sedangkan yang dimaksud dengan wisdom adalah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan. Phytagoras sendiri menganggap dirinya sebagai seorang philosophos (pecinta kebijakan), baginya kebijakan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan.
  2. Socrate (469-399 SM). Ia adalah seorang filosof dalam bidang moral yang terkemuka setelah Thales pada zaman Yunani Kuno. Socrates memahami bahwa filsafat adalah suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia (principels of the just and happy life) 
  3. Plato(427-347 SM). Seorang sahabat dan murid Socrates ini telah mengubah pengertian kearifan (shopia) yang semula bertalian dengan soal-soal praktis dalam kehidupan menjadi pemahaman intelektual. Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Dalam karya tulisnya Republik, Plato menegaskan bahwa para filosof adalah pecinta pandangan kebenaran (vision of truth). Dalam pencarian terhadap kebenaran tersebut, hanya filosof yang dapat menemukan dan menangkap pengetahuan mengenai ide yang abadi dan tak berubah. Dalam konsepsi Plato, filsafat merupakan pencarian yang bersifat spekulatif atau  perekaan terhadap pandangan tentang seluruh kebenaran . maka filsafat Plato tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Filsafat Spekulatif. 
  4. Aristoteles (384-332 SM). Aristoteles adalah salah seorang murid Plato yang terkemuka. Dalam pandangannya, seringkali Aristoteles bersebrang dengan pendapat gurunya, namun pada prinsipnya, Aristoteles mengembangkan paham-paham yang dikemukakan oleh gurunya tersebut.  Berkenaan dengan pengertian filsafat, Aristoteles mengemukakan bahwa shopia (kearifan) merupakan kebijakan intelektual tertinggi. Sedangkan philosophia merupakan padanan kata dari episteme dalam arti suatu kumpulan teratur pengetahuan rasional mengenai sesuatu objek yang sesuai. Adapun pengertian filsafat itu sendiri, menurut Aristoteles, adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. 
  5. Rene Descartes (1596-1650). Ia memberikan definisi filsafat sebagai kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan , alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikannya. 
  6.  Imanuel Kant (1724-1804). Menurutnya, filsafat adalah ilmu yang menjadi pokok pangkal dari segala ilmu pengetahuan  yang di dalamnya tercakup masalah epistemology, etika dan masalah ketuhanan.  
  7.  Al-kindi (801-873 M). Ia adalah seorang filosof muslim pertama. Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, Karena tujuan para filosof dalam berteori adalah mencari kebenaran, maka dalam praktiknya pun harus menyesuaikan dengan kebenaran pula. 
  8. Al-farabi (870-873 M). Menurutnya filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-mauju-dat).
  9. Francis Bacon (1561-1621 M). Seorang filosof Inggris ini mengemukakan metode induksi yang berdasarkan pengamatan dan percobaan menemukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Ia menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the science).
  10. Henry sidgwick (1839-1900 M). Dalam bukunya yang berjudul “Philosophi, Its Scope  and Relations: An introductory Course of Lectures”, Henry Sidgwick menyebutkan bahwa filsafat sebagai scientia scientarium (ilmu tentang ilmu), karena filsafat memeriksa pengertian-pengertian khusus, asas-asas pokok, metode khas, dan kesimpulan-kesimpulan utama dalam suatu ilmu apapun dengan maksud untuk mengkoordinasikan semuanya dengan hal-hal yang serupa dari ilmu-ilmu lainnya. 
  11. John Dewey (1858-1952). Dalam tulisannya yangberjudul “Role of Philosophy in The History of Civilazations ; Proceedings of The Sixth International Congress of Philosophy), ia menganggap filsafat sebagai suatu sarana untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian antara hal-hal yang lama dengan yang baru dalam penyesuaian suatu kebudayaan. Filsafat merupakan suatu pengungkapan dari perjuangan-perjuangan manusia dalam usaha yang terus menerus untuk menyesuaikan kumpulan tradisi yang lama dengan berbagai kecenderungan ilmiah dan cita-cita politik yang baru. 
  12. Bertrand Russel (1872-1970). Seorang filosof Inggris lainnya yang memiliki nama lengkap Bertrand Arthur William Russel ini menganggap filsafat sebagai kritik terhadap pengetahuan, karena filsafat memeriksa secara kritis asas-asas yang dipakai dalam ilmu dan dalam kehidupan sehari-hari, dan mencari suatu ke tak selarasa yang dapat terkandung dalam asas-asas itu. 
  13.  M.J. Langeveld. Ia mengemukakan bahwa filsafat adalah ilmu yang mengkaji tetang masalah-masalah yang akhir dan yang menentukan, yaitu masalah-masalah yang berkenaan dengan makna keadaan atau hakikat, tentang Tuhan, keabadian dan kebebasan. 
  14.  Harun Hadiwijon. Menurutnya, filsafat adalah usaha manusia dengan akalnya untuk memperoleh suatu pandangan dunia dan hidup yang memuaskan hati.
  15. Fuad Hasan. Menurutnya filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal untuk sampai kepada kesimpulan yang universal. 
  16.  Hasbullah Bakry. Ia merumuskan filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan yang mendalam. 
  17. Poedjawijatna (1974). Ia memberikan definisi filsafat sebagai ilmu yang berusaha untuk mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. 
  18.   A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua. Menurutnya, filsafat adalah sebuah sikap mempertanyakan tentang segala sesuatu. Memang pada akhirnya pertanyaan itu akan menemukan jawabannya, tetapi jawaban ini selalu dipertanyakan lagi. Karena itulah filsafat sering dianggap sebagai sesuatu yang bermula dari sebuah pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan pula. Dengan kata lain, filsafat adalah sebuah sistem pemikiran yang terbuka untuk dipertanyakan dan dipersoalkan kembali. Filsafat adalah tanda Tanya dan bukan tanda seru. Filsafat adalah pertanyaan bukan pernyataan. Demikian Sonny dan Mikhael berkomentar mengenai definisi filsafat.





sumber : Susanto. A. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta : PT. Bumi Aksara 

Pengertian Filsafat Secara Etimologi



Kata filsafat berasal dari kata ‘philosophia’ (bahasa Yunani), diartikan sebagai ‘mencintai kebijaksanaan’. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata filsafat disebut dengan istilah ‘philosophy’, dan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah ‘falsafah’, yang biasa diterjemahkan dengan ‘cinta kearifan’.
Istilah philosophia memiliki akar kata philien yang berarti  mencintai  dan Sophos yang berarti bijaksana. Jadi, kata philosophia berarti mencintai akan hal-hal yang bersifat bijaksana. Berdasarkan uraian diatas, dapat dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Sedangkan orang-orang yang berusaha mencari kebijaksanaan atau pengetahuan disebut dengan filsuf atau filosof.
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filsafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak disamping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tertsentuholeh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptic yang mempertanyakan segala hal.
Sumber dari filsafat adalah manusia, dalam hal ini akal dan qalbu manusia yang sehat yang berusaha keras dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran dan akhirnya memperoleh kebenaran.
Proses mencari kebenaran itu melalui berbagai tahap. Tahap pertama, manusia berspekulasi dengan pemikirannya tentang semua hal. Tahap kedua, dari berbagai spekulasi disaring menjadi bebrapa buah pikiran yang dapat diandalkan. Tahap ketiga,buah pikiran tadi menjadi titik awal dalam mencari kebenaran (penjelajahan pengetahuan yang didasari kebenaran), kemudian berkembang sebagai ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, hukum, politik dan lain-lain.




sumber : Susanto. A. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Minggu, 25 September 2016

Biografi Immanuel Kant.

Immanuel Kant adalah seorang filsuf besar Jerman abad ke-18 yang memiliki pengaruh sangat luas bagi dunia intelektual. Pengaruh pemikirannya merambah dari wacana metafisika hingga etika politik dan dari estetika hingga teologi. Lebih dan itu, dalam wacana etika ia juga mengembangkan model filsafat moral baru yang secara mendalam mempengaruhi epistemologi selanjutnya.

Telaah atas pemikiran Kant merupakan kajian yang cukup rumit, sedikitnya karena dua alasan. Pertama, Kant membongkar seluruh filsafat sebelumnya dan membangunnya secara baru sama sekali. Filsafatnya itu oleh Kant sendiri disebut Kritisisme untuk melawankannya dengan Dogmatisme. Dalam karyanya berjudul Kritik der reinen Vernunft (Kritik Akal Budi Murni, 1781/1787) Kant menanggapi, mengatasi, dan membuat sintesa antara dua arus besar pemikiran modern, yakni Empirisme dan Rasionalisme. Revolusi filsafat Kant ini seringkali diperbandingkan dengan revolusi pandangan dunia Copernicus, yang mematahkan pandangan bahwa bumi adalah datar.

Kedua, sumbangan Kant bagi Etika. Dalam Metaphysik der Sitten (Metafisika Kesusilaan, 1797), Kant membuat distingsi antara legalitas dan moralitas, serta membedakan antara sikap moral yang berdasar pada suara hati (disebutnya otonomi) dan sikap moral yang asal taat pada peraturan atau pada sesuatu yang berasal dan luar pribadi (disebutnya heteronomi).


Kehidupan awal

Immanuel Kant (lahir di Königsberg, Kerajaan Prusia, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, Kerajaan Prusia, 12 Februari 1804 pada umur 79 tahun). Kota itu sekarang bernama Kaliningrat di Rusia. Dia berasal dari keluarga pengrajin yang sederhana. Ketika Kant masih muda, usaha ayahnya bangkrut. Kehidupan meraka harus didukung oleh keluarga besar orang tuanya. Kant penuh dengan kerendahan hati dan sangat disiplin.

Kant kemudian menjadi guru besar untuk logika dan metafisika di Universitas Konisberg. Dia secara rutin menyajikan kuliah tentang geografi fisik. Hal ini dilakukannya sepanjang tahun sampai tahun 1796. Dalam pengantar kuliahnya, dia selalu menegaskan tempat geografi dalam dunia ilmiah. Dia memberikan landasan falsafi bagi geografi sebagai pengetahuan ilmiah.

Minat Kant dalam geografi fisik tidak dir4ngsang oleh pengalamannya menghadapi alam di berbagai belahan dunia tetapi muncul dari penyelidikan filsofis atas pengetahuan empiris. Bagi Kant, geografi adalah ilmu empiris yang ingin menunjukkan alam sebagai suatu sistem. Geografi, menurutnya merupakan ilmu tentang fenomena fisik dan budaya yang tersusun dalam ruang bumi.


Biografi

Immanuel Kant dilahirkan pada tahun 1724 di Königsberg dari pasangan Johann Georg Kant, seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina Kant. Setelah itu, ayahnya kemudian dikenal sebagai ahli perdagangan, tetapi pada tahun 1730-1740 perdangangan di Königsberg mengalami kemerosotan. Hal ini memengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam kesulitan. Ibunya meninggal pada saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat dia berumur hampir 22 tahun.

Kant menempuh pendidikan dasar di Saint George's Hospital School, kemudian melanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist. Keluarga Kant memang penganut agama Pietist, yaitu agama di Jerman yang mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religius dan studi kitab suci. Pada tahun 1740, Kant menempuh pendidikan di University of Königsberg dan mempelajari tentang filosofi, matematika, dan ilmu alam. Untuk meneruskan pendidikannya, dia bekerja sebagai guru privat selama tujuh tahun dan pada masa itu, Kant mempublikasikan beberapa naskah yang berkaitan dengan pertanyaan ilmiah. Pada tahun 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil terus mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topik. Gelar profesor didapatkan Kant di Königsberg pada tahun 1770.

Immanuel Kant meninggal pada 12 Februari 1804 (umur 79) di Königsberg, Kerajaan Prusia.


Pemikiran Kant tentang Moral

Deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarati apa yang harus dilakukan, kewajiban. Pemikiran ini dikembangkan oleh filosof Jerman, Immanuel Kant (1724- 1804). Sistem etika selama ini yang menekankan akibat sebagai ukuran keabsahan tindakan moral dikritik habis-habisan oleh Kant. Kant memulai suatu pemikiran baru dalam bidang etika dimana ia melihat tindakan manusia absah secara moral apabila tindakan tersebut dilakukan berdasarkan kewajiban (duty) dan bukan akibat. Menurut Kant, tindakan yang terkesan baik bisa bergeser secara moral apabila dilakukan bukan berdasarkan rasa kewajiban melainkan pamrih yang dihasilkan. Perbuatan dinilai baik apabila dia dilakukan semata-mata karena hormat terhadap hukum moral, yaitu kewajiban.

Kant membedakan antara imperatif kategoris dan imperatif hipotetis sebagai dua perintah moral yang berbeda. Imperatif kategoris merupakan perintah tak bersyarat yang mewajibkan begitu saja suatu tindakan moral sedangkan imperatif hipotesis selalu mengikutsertakan struktur “jika.. maka.. “. Kant menganggap imperatif hipotetis lemah secara moral karena yang baik direduksi pada akibatnya saja sehingga manusia sebagai pelaku moral tidak otonom (manusia bertindak semata-mata berdasarkan akibat perbuatannya saja). Otonomi manusia hanya dimungkinkan apabila manusia bertindak sesuai dengan imperatif kategoris yang mewajibkan tanpa syarat apapun. Perintah yang berbunyi “lakukanlah” (du sollst!). Imperatif kategoris menjiwai semua perbuatan moral seperti janji harus ditepai, barang pinjaman harus dikembalikan dan lain sebagainya. Imperatif kategoris bersifat otonom (manusia menentukan dirinya sendiri) sedangkan imperati hipotetis bersifat heteronom (manusia membiarkan diri ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan dan emosi).

Berkenaan dengan pemikiran deontologinya, Kant mengemukakan duktum moralnya yang cukup terkenal: “bertindaklah sehingga maxim (prinsip) dari kehendakmu dapat selalu, pada saat yang sama, diberlakukan sebagai prinsip yang menciptakan hukum universal. Contoh tindalah moral “jangan membunuh” adalah besar secara etis karena pada saat yang sama dapat diunverasalisasikan menjadi prinsip umum, (berlaku untuk semua orang dimana saja kapan saja).


Pemikiran Etika Kant

Etika Immanuel Kant (1724-1804) diawali dengan pernyataan bahwa satu-satunya hal baik yang tak terbatasi dan tanpa pengecualian adalah “kehendak baik”. Sejauh orang berkehendak baik maka orang itu baik, penilaian bahwa sesorang itu baik sama sekali tidak tergantung pada hal-hal diluar dirinya, tak ada yang baik dalam dirinya sendiri kecuali kehendak baik. Wujud dari kehendak baik yang dimiliki seseorang adalah bahwa ia mau menjalankan Kewajiban. Setiap tindakan yang kita lakukan adalah untuk menjalankan kewajiban sebagai hukum batin yang kita taati, tindakan itulah yang mencapai moralitas, demikian menurut Kant. Kewajiban menurutnya adalah keharusan tindakan demi hormat terhadap hukum, tidak peduli apakah itu membuat kita nyaman atau tidak, senang atau tidak, cocok atau tidak, pokoknya aku wajib menaatinya. Ketaatanku ini muncul dari sikap batinku yang merupakan wujud dari kehendak baik yang ada didalam diriku. Menurut Kant ada tiga kemungkinan seseorang menjalankan kewajibannya, Pertama, ia memenuhi kewajiban karena hal itu menguntungkannya. Kedua, Ia memenuhi kewajibannya karena ia terdorong dari perasaan yang ada didalam hatinya, misalnya rasa kasihan. Ketiga, Ia memenuhi kewajibannya kerena kewajibannya tersebut, karena memang ia mau memenuhi kewajibannya. Tindakan yang terakhir inilah yang menurut Kant merupakan tindakan yang mencapai moralitas. Lalu Kant membedakan dua hal antara Legalitas dan Moralitas. Legalitas adalah pemenuhan kewajiban yang didorong oleh kepentingan sendiri atau oleh dorongan emosional.

Sedang Moralitas adalah Pemenuhan kewajiban yang didorong oleh keinginan memenuhi kewajiban yang muncul dari kehendak baik dari dalam diri. Selanjutnya Kant menjabarkan kriteria kewajiban moral, landasan epistemologinya bahwa tindakan moral manusia merupakan apriori akal budi praktis murni yang mana sesuatu yang menjadi kewajiban kita tidak didasarkan pada realitas empiris, tidak berdasarkan perasaan, isi atau tujuan dari tindakan. Kriteria kewajiban moral ini menurut Kant adalah Imperatif Kategoris. Perintah Mutlak demikian istilah lain dari Imperatif Kategoris, ia berlaku umum selalu dan dimana-mana, bersifat universal dan tidak berhubungan dengan tujuan yang mau dicapai. Dalam arti ini perintah yang dimaksudkan adalah perintah yang rasional yang merupakan keharusan obyektif, bukan sesuatu yang berlawanan dengan kodrat manusia, misalnya “kamu wajib terbang !”, bukan juga paksaan, melainkan melewati pertimbangan yang membuat kita menaatinya. Ada tiga Rumusan Imperatif kategoris menurut Kant, Pertama, “ Bertindaklah semata-mata menurut menurut maksim yang dapat sekaligus kau kehendaki menjadi hukum umum”.

Kata Maksim artinya adalah prinsip subyektif dalam melakukan tindakan. Maksim ini yang kemudian menjadi dasar penilaian moral terhadap tindakan seseorang, apakah tindakan moral yang berdasarkan maksimku dapat diuniversalisasikan, diterima oleh orang lain dan menjadi hukum umum?. Prinsip penguniversalisasian ini adalah ciri hakiki dari kewajiban moral. Rumusan kedua adalah “Bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau memperlakukan manusia entah didalam personmu atau didalam person orang lain sekaligus sebagai tujuan pada dirinya sendiri bukan semata-mata sebagai sarana belaka”. Maksudnya bahwa segala tindakan moral dan kewajiban harus menjunjung tinggi penghormatan terhadap person. Dua rumusan diatas tidak dapat berlaku jika tidak ada rumusan yang ketiga ini yaitu otonomi kehendak, tanpa otonomi kehendak, manusia tidak dapat bertindak sesuai dengan rumusan Imperatif Kategoris. Moralitas menurut Kant merupakan implikasi dari tiga Postulat antara lain; Kebebasan kehendak manusia, immortalitas jiwa dan Eksistensi Allah. Kehendak bebas manusia merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal karena terimplikasi langsung dalam kesadaran moral. Immortalitas jiwa menyatakan bahwa kebahagiaan tertinggi manusia tidak munggkin dicapai didunia tapi dikehidupan nanti. Dan Keberadaan Allah yang menjamin bahwa pelaksanaan kewajiban moral manusia akan merasakan ganjarannya dikemudian hari berupa kebahagiaan sejati. Ketiganya itu disebut Kant sebagai “Postulat” yaitu suatu kenyataan yang sungguh ada dan harus diterima, dan tidak perlu dibuktikan secara teoritis, ini merupakan hasil penyimpulan akal budi praktis atas moral manusia.






sumber : https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.co.id/2015/01/biografi-immanuel-kant-filsuf-besar-jerman.html

[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


2. Pengertian FilsafatSecara Terminologi
3. Biografi Immanuel Kant.
4. Aliran Positivisme dalam Filsafat 
5. Aliran Materialisme Filsafat
6. Aliran Kritisme dalam Filsafat
7. Aliran Empirisme dalam Filsafat
8. Aliran Rasionalisme dalam Filsafat
9. Aliran Filsafat Idealisme
10. Kenapa Kita Perlu Belajar Filsafat???
11.  Hakikat kebenaran dalam filsafat
12. Mencari kebenaran dalam filsafat
13. Hakikat Ilmu dan Pengetahuan
14. Pengertian Filsafat Ilmu Pengerahuan
15. Objek Filsafat Ilmu
16. Bidang Kajian Filsafat Ilmu Pengetahuan (bidang ontologi)
17. Bidang Kajian Filsafat Ilmu Pengetahuan (bidang epistemologi)
18. Bidang Kajian Filsafat Ilmu Pengetahuan (bidang aksiologi)
19. Perkembangan Filsafat Ilmu Pengetahuan
20. Aliran Filsafat Islam dalam Filsafat
21. Aliran Pragmatisme dalam Filsafat
22. Aliran Sekularisme dalam Filsafat
23. Kegunaan Filsafat Secara Umum
24. kegunaan Filsafat secara Khusus
25. Filsafat Sebagi Pandangan Hidup
26. Filsafat Sebagai Cara Berfikir
27. Filsafat Sebagai Ilmu
28. Fungsi dan Arah Filsafat Ilmu
29. Pendekatan dalam Filsafat Ilmu
30. Manfaat belajar filsafat ilmu
31. Implikasi mempelajari filsafat ilmu
32. Problema Filsafat Ilmu
33. Cabang-cabang filsafat (metafisika)
34. Cabang-cabang filsafat (Logika)
35. Cabang-cabang filsafat (estetika)
36. Cabang-cabang filsafat (Etika)
37. Cabang-cabang filsafat (epistemologi)
38. Persamaan antara ilmu, filsafat dan agama
39. Perbedaan antara ilmu, filsafat dan agama
40. FILOSOFI PANCASILA 
41. Filosofi lambang sila dalam pancasila
42. Filosofis Plus Minus dalam Matematika 
43. Filsafat matematika 
44. WILAYAH FILSAFAT MATEMATIKA 
45. Siapakah manusia??? 
46. Cara menjadi sukses menurut matematika !!
47. Sejarah Kebangkitan Kebangsaan Indonesia 
48. Filosofi Matematika Dalam Kehidupan
49.  Asal Usul Nama Anyer
50. Arti Logo UNTIRTA (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) 
51. Wisata Religi di Banten
52. TOKOH-TOKOH FILSAFAT MATEMATIKA BESERTA KARYA DAN PENEMUANNYA
53. TOKOH-TOKOH FILSAFAT MATEMATIKA BESERTA KARYA DAN PENEMUANNYA
54. BIOGRAFI AL-KHAWARIZMI-TOKOH MATEMATIKAWAN
55. ASAL MULA BANTEN DAN KATA BANTEN
56. Sejarah Kerajaan Banten
57. Dari mitos ke logos
58.  Periodisasi Filsafat barat (Periode Yunani)
59. Periodisasi Filsafat barat (Periode Abad Pertengahan) 
60. Periodisasi Filsafat barat (Periode Modern) 
61. Tokoh-tokoh Filsafat Modern 
62. BIOGRAFI JOHN LOCKE TOKOH FILSAFAT MODERN
63.  BIOGRAFI WILLIAM JAMES FILSAFAT MODERN
64. BIOGRAFI KARL MARX TOKOH FILSAFAT MODERN

65. BIOGRAFI BETRAND RUSSELL FILSAFAT MODERN
66. Periodisasi Filsafat Barat (Periode Postmodern atau Kontemporer)
67. Cara Belajar Filsafat
68. Ciri Berfikir Filsafat
69. Metode Filsafat

70. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
71. Ciri-ciri ilmu pengetahuan
72. Sarana Berfikir Ilmiah
73. Paulo Freire
74. Pengertian Hermeneutik
75. Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Scorates.
76. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Aristoteles. 
77. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Plato. 
78. Gagasan Etika Lingkungan
79. Etika Lingkungan dibandingkan dengan lingkungan lain
80. Pengaruh Etika Lingkungan Fisik
81. Penjelasan 'Etika Lingkungan'
82. Lingkungan dan iklim
83. Keragaman etika lingkungan
84. Konsepsi Nilai Pendidikan
85. Ide Pendidikan Sebagai Bagian Dari Etika Lingkungan
86. Etika Pengajaran Pemikiran
87. Pentingnya Etika Nilai Nilai Di Lingkungan Pendidikan
88. Bertanggung Jawab Terhadap Etika Lingkungan
89. Bertanggung Jawab Terhadap Etika Lingkungan 2
90. Standar Untuk Mengevaluasi Lingkungan Etika
91. Pentingnya Keanekaragaman di Lingkungan Etika
92. Legitimasi Intervensi Pemerintah
93. Sebuah Studi Kasus dalam Lingkungan Etika Liberal
94. Individu dalam Lingkungan Etis
95. Relevansi Filsafat dengan Tujuan Pendidikan 
96. Matematika sebagai Ratu dan Pelayan Ilmu 
97. Bentuk Filsafat Indonesia
98. Pemikiran Filsafat Indonesia 
99. Apakah “Guru” Juga Filsuf?
100. Teori Kebenaran
101. Pengertian Matematika Menurut Pendapat Ahli dan Kurikulum
102. Filsafat Pendidikan 
103. Matematika , ditemukan oleh para tokoh!!
104.  Beberapa aliran dalam filsafat matematika
105. Relasi filsafat dan Matematika
106. Biografi Thales, Tokoh Filsafat Matematika
107. Biografi Euclides, tokoh filsafat matematika 
108. Biografi Phytagoras
109. Biografi Archimedes,tokoh filsafat matematika
110. Golok Ciomas Budaya Khas BANTEN
111.Macam-macam Kesenian di Provinsi Banten
112. Apa yang dapat kita ketahui?
113. Etika LingkunganDalam Pengembangan Kebajikan
114. Sampaidimanakah pengharapan? 
115. Apayang boleh kita lakukan?
116. Pemikiran Immanuel Kant 
117. Epistemologi Kant, Membangun dari Bawah
118.
Tingkatan Pengetahuan Manusia 
119. Tiga Pokok Pemikiran Immanuel Kant 
120. Pemikiran Kritisisme Immanuel Kant 
121. Filosofi Matematika Sebagai Kehidupan 
122. Filsafat Immanuel Kant 
123. Matematika Yunani
124. Kebudayaan
125. Sejarah Perkembangan Filsafat Estetika
126. Hubungan Filsafat dan Matematika
127. Filsafat Matematika Menurut para Ahli
128. Pembahasan Sifat Dasar Matematika secara Filsafat
129. Bidang Filsafat Matematika
130. Logisisme dalam Matematika 
131. Empirisisme dalam Matematika 
132. Formalisme dalam Matematika
133. Intuisionisme dalam Matematika 
134. Konstruktivisme dalam Matematika 
135. Fiksionalisme dalam Matematika